SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #25

UNTUK KELUARGA TERCINTA

Siang itu langit ikut berbahagia menjadi saksi pernikahan sepasang pecinta yang telah lama sudah di takdirkan, namun baru kali ini terjawab oleh penguasa semesta untuk bersatu dalam ikatan cinta pernikahan.

Sinar terik indung matahari seraya di halangi oleh gumpalan awan kelabu ikut menari bahagia menedukan langit memayungi acara dua insan yang sebentar lagi akan menjadi suami istri mengikat janji setia.

Tamu undangan mulai berdatangan memadati pelataran halamam kedai kopi. Siang itu tamu undangan bebas menikmati semua aneka rasa kopi dan aneka hidangan makanan sudah tersaji. Sebentar lagi pelaminan sederhana akan segera di duduki raja dan ratu sehari menerima ucapan selamat dari setiap jabatan tangan menguntai kata doa.

Sudah terduduk kakak lelaki sulungnya, ia akan menjadi wali nikah adik gadisnya. Pandangannya menoleh ibunya mengangguk bahagia, namun hatinya selalu berbisik kesedihan. Seorang istri ingin sekali suaminya bisa menjadi wali nikah dan mendampingi anak gadisnya sebentar lagi akan melakukan ijab qabul. Harapannya kian tertipis kesedihan karena terasa semua berharap dengan kehadiran suaminya yang telah tiada.

"Ar, kamu jangan minum kopi. Masih kecil nggak baik, ntar jadi bloon!" __ "Kata siapa, justru minum kopi jadi pintar. Apalagi kalau belajar jadi nggak ngantuk, minum kopi mata jadi melek," Tarno melarang adik sopirnya yang mencoba minum kopi di tengah para tamu undangan berdatangan.

"Ayah, hari ini terasa bahagia. Tapi kebahagiaan tak sempurna tanpa kehadiran ayah," hatinya berbisik sedih, saat jemari kanannya berjabat erat oleh calon adik iparnya. Firman menatap wajah adik gadisnya sedikit menunduk, ia duduk di sebelah calon suaminya sebentar lagi mengutarakan isi hatinya.

"Ananda Rahman Pratama bin, Surya Pratama. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Caca Atmana, bin Lukman Atmana yang walinya di wakilkan kepada saya. Dengan mas kawin, seperangkat alat sholat," tutur tegas dan terdengar jelas terucap dari bibir kakak sulungnya siang itu menjadi wali, mewakilkan ayahnya yang telah tiada.

"Saya terima dan kawinkan Caca Atmana, bin Lukman Atmana dengan seperangkat alat sholat, di bayar tunai!" di jawab lugas dan tegas terlontar dari bibirnya Rahman masih berjabat tangan dengan kakak iparnya.

"Sahh!" __ "Sahh! Sahh!" sahut lelaki tua berjas hitam, ia penghulu lalu di sertai semua tamu ikut berseru berbahagia.

Makin tidak terbendung rintik air mata kebahagiaan membasahi wajahnya kian berkerut menua perhatikan anak gadisnya menyalami dan menciumi permukaan tangan lelaki yang kini resmi menjadi suaminya. Beranjak bangun pelan suaminya memapah bangun istrinya menanti kecupan bibir suaminya mendarat di keningnya.

"Bu," bibirnya mendarat menciumi permukaan tangan ibunya. Caca menangis sedih bercampur bahagia memeluk ibunya terpancing sedih.

"Jaga Caca baik-baik," singkat namun pesannya seraya menelusuk kedalam benaknya saat adik iparnya mencium permukaan tangan lelaki yang kini sudah menjadi kakak iparnya.

Suasana semakin terasa bahagia ketika pasangan pengantin duduk di pelaminan dengan banyak tamu undangan memberikan selamat dan ucapan bahagia. Masih ada yang kurang dan tidak sempurna di hari kebahagiaan itu, dua matanya kali ini sungguh berani menitikan tetesan air mata membasahi wajah yang kian hari menua.

Lihat selengkapnya