"Tar, dorong aja pintunya!" __ "Gimana mau di dorong pintunya, ntar gua di marahi orang pasar! Mbok. Mbok Sum!" panik sejak tadi di ketuk dan di panggil oleh dua lelaki semakin cemas panik tidak ada jawaban dari dalam warung.
Pintunya masih tertutup rapat, sedangkan papan penutup warung juga tertutup rapat. Keduanya makin panik dan tergurat cemas di raut wajah masing-masing semakin bingung.
"Loe jangan ngegaruk kepala aja. Banyak kutu emang kepala loe?!" gusar Firman pada Tarno cuman diam bengong sembari jemari tangannya menggaruk kepalanya.
"Lagian Mbok Sum kemana si?!" di jawabnya gusar. Tarno terpaksa menempelkan pundaknya seraya ingin membuka pintu warung.
"Gua dobrak aja ya, pintunya?" sekali dan dua kali bahunya dekatkan dan membuka paksa pintu.
"Mbok! Mbok Sum!" di panggilnya lagi kali ini Firman memanggil dengan suara lantang.
Pasar menjelang sore memang sudah sepi, tidak lagi banyak pembeli yang datang. Keduanya sempat putus asa, dari tadi suaranya memanggil saja tidak di dengar apalagi di bukain pintu. Pegel juga bahunya Tarno berapa kali memaksa membuka paksa pintu tetap saja tidak bisa terbuka.
"Apa iya Mbok Sum pulang kampung?" __ "Bisa jadi Mbok Sum pulang kampung. Belum lama Mbok Sum ngomong, kalau saudaranya ada yang sakit," keduanya saling bertanya bernada bingung duduk di kursi panjang depan warung.
Warung seraya tidak berpenghuni, tidak ada suara wanita tua yang selalu cermah memberikan nasehat pada dua lelaki yang di anggap anaknya. Semakin cemas dan gelisah pikiran keduanya ingin bertanya pada siapa, tidak ada satupun orang yang lewat apalagi pedagang pasar, sopir dan kenek mobil terbuka siang itu juga tidak ada yang datang makan.
Terdengar suara ujung sapu lidi sedang mengusir debu dan sampah di lantai. Sontak keduanya beranjak bangun menghampiri petugas kebersihan sedang menyapu lorong koridor pasar.
"Bang sini," panggil Firman pada lelaki petugas kebersihan sempat bingung di panggil. Petugas kebersihan menarik gagang sapu lalu menghampiri.
"Ada apa?" tanyanya singkat. Petugas kebersihan perhatikan lantai lorong koridor memang masih kotor masih belum di sapu sebagian.
"Bang, loe tahu nggak Mbok Sum kemana?" balik tanya Tarno pada petugas kebersihan sejenak melongok lorong koridor, di mana memang ada warung masih tutup.
"Mbok Sum, yang dagang nasi itu?" jawabnya lagi-lagi melihat kiri-kanan lorong koridor sepi.
"Bukannya jawab cepatan, malahan longok kiri-kanan. Akh, loe kayak pencelongok!" ketus rada jengkel juga Tarno pada petugas kebersihan bukannya menjawab malahan lihat kiri-kanan.
"Tadi pagi, Mbok Sum di temuin jatuh di dalam warungnya sama orang yang mau makan," __ "Jatuh?" kali ini di jawabnya tidak menoleh kiri-kanan oleh petugas kebersihan yang di sela Firman makin bingung.