Blurb
Bagi Andra, Rania, dan Dika, rumah masa kecil di kampung halaman adalah babak masa lalu yang sudah lama mereka tinggalkan. Terjebak dalam pusaran ambisi, utang bisnis, dan pelarian hidup di ibu kota, ketiganya perlahan tumbuh menjadi orang asing bagi satu sama lain—dan bagi Bapak yang hidup menduda dalam kesunyian.
Namun, sebuah pesan singkat dari Bapak memecah kesibukan mereka: "Bapak mau menjual rumah kita. Silakan pulang minggu ini untuk membereskan barang-barang kalian."
Pulang dengan amarah dan ego masing-masing, ketiga bersaudara ini berniat menentang keputusan tersebut. Mereka mengira Bapak hanya keras kepala, sampai akhirnya rahasia memilukan itu terkuak di antara sudut-sudut rumah yang mulai berdebu. Bapak tidak sedang mencari keuntungan. Beliau sedang berpacu dengan waktu melawan demensia yang perlahan menghapus sisa ingatannya.
Setiap sudut dinding rumah ternyata dipenuhi catatan kecil, dan keputusan menjual rumah adalah cara terakhir Bapak agar tidak menjadi beban sebelum beliau melupakan nama anak-anaknya sendiri.
Kini, di bawah atap yang sama, mereka dihantam penyesalan yang terlambat. Saat waktu Bapak terus terkikis dan ingatan beliau perlahan memudar, ke manakah mereka akan pulang ketika sosok yang mereka sebut "Rumah" tidak lagi mengenali wajah anak-anaknya?
Sebuah kisah menyayat hati tentang waktu yang terbatas, ketulusan yang terabaikan, dan kesadaran bahwa rumah sejati tidak pernah terbuat dari batu bata, melainkan dari ingatan orang-orang yang kita cintai.