Ibu kota tidak pernah peduli apakah jantungmu sedang berdegup normal atau hampir meledak karena stres. Bagi Andra, Jakarta hari ini terasa seperti monster abu-abu yang siap menelannya bulat-bulat.
Di dalam ruang kerjanya yang ber-AC dingin di lantai lima belas sebuah gedung pencakar langit di Sudirman, Andra menatap layar laptop dengan mata merah. Angka-angka di laporan keuangan itu berwarna merah—melambangkan grafik bisnis logistiknya yang terus terjun bebas dalam tiga bulan terakhir. Utang vendor menumpuk, dan pagi tadi, salah satu investor terbesarnya mengancam akan menarik modal jika tidak ada perbaikan dalam waktu dua minggu.
Ponselnya di atas meja bergetar. Nama istrinya, Cynthia, muncul di layar. Andra menghela napas berat sebelum menggeser tombol hijau.
"Ya, Cyn?"
"Andra, tagihan sekolah Kiara sudah lewat jatuh tempo tiga hari. Dan jangan lupa, akhir bulan ini kita harus bayar cicilan rumah. Kamu sudah transfer?" Suara Cynthia terdengar datar, tanpa basa-basi, mencerminkan hubungan mereka yang sudah berbulan-bulan mendingin seperti es.
"Besok, Cyn. Aku masih urus pencairan dari klien," bohong Andra. Suaranya terdengar kaku, mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai kepala keluarga.
"Tolong cepat, Dra. Aku bosan dengar alasan kamu."
Klik. Telepon ditutup sepihak.
Andra melempar ponselnya ke meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut layaknya dihantam palu. Tepat pada saat itulah, ponselnya kembali berdenting. Bukan telepon, melainkan sebuah notifikasi dari grup WhatsApp yang sudah sangat lama senyap: Keluarga Bramantyo.
Pesan itu datang dari nomor Bapak. Singkat, padat, dan tanpa emoji apa pun.
Bapak: Bapak mau menjual rumah kita. Silakan pulang minggu ini untuk membereskan barang-barang kalian. Pembeli akan datang dua minggu lagi.
Darah Andra mendadak berdesir. Dijual? Rumah itu? Otak pragmatis Andra yang sedang terdesak finansial langsung berputar cepat. Rumah peninggalan masa kolonial dengan halaman luas di kampung halaman mereka pasti bernilai tinggi. Jika rumah itu dijual dan hasilnya dibagi rata, utang bisnisnya bisa lunas, dan rumah tangganya dengan Cynthia mungkin bisa diselamatkan.