Hari Jumat yang dijanjikan tiba dengan langit mendung yang menggantung rendah di atas kota kelahiran mereka. Perjalanan dari Jakarta yang memakan waktu empat jam terasa seperti ujian kesabaran, terutama bagi tiga kepala yang membawa beban pikiran berbeda di dalam mobil SUV milik Andra.
Sejak berangkat dari Jakarta tadi siang, kabin mobil didominasi oleh keheningan yang canggung. Andra fokus menyetir dengan rahang yang sesekali mengeras setiap kali layar dasbor mobilnya berkedip menampilkan surel masuk dari kantor. Rania duduk di kursi samping kemudi, menatap keluar jendela, mengamati deretan pohon mahoni di tepi jalan yang menandakan mereka sudah semakin dekat dengan rumah. Sementara Dika, meringkuk di kursi belakang dengan headphone besar menutupi telinganya, berpura-pura tidur walau matanya sesekali melirik ketegangan di antara kedua kakaknya.
Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah gang yang jalannya mulai retak-retak di beberapa bagian. Di ujung gang itulah, rumah masa kecil mereka berdiri.
Ketika ban mobil berhenti di atas hamparan kerikil halaman depan, ketiganya tidak langsung turun. Mereka menatap rumah itu dari balik kaca mobil. Rumah bergaya kolonial beratap tinggi itu masih terlihat sama, namun cat putih dindingnya kini tampak lebih kusam, dan rumput liar di sekitar pohon mangga sudah tumbuh setinggi lutut. Rumah itu terlihat ... terlalu besar dan terlalu sepi untuk ditinggali satu orang tua.
"Ingat," Andra memecah keheningan, suaranya terdengar otoriter saat dia mematikan mesin mobil. "Kita ke sini untuk bantu Bapak beres-beres, bukan untuk bikin drama. Kalau urusan jual rumah ini lancar, kita semua juga yang bakal terbantu."
Rania menoleh, menatap Andra dengan tatapan tajam yang terlatih dari balik kacamatanya. "Terbantu untuk dompet Mas Andra, maksudnya? Tolong ya, Mas, jangan anggap kita semua punya pikiran pragmatis kayak Mas."
"Rania, jaga mulut kamu. Kamu gak tahu apa-apa soal tanggung jawab," desis Andra, matanya berkilat marah.
"Sudahlah," sebuah suara malas dari belakang memotong perdebatan. Dika sudah melepas headphone-nya, menatap kedua kakaknya dengan pandangan jengah. "Baru nyampe pagar udah ribut. Mending turun."
Pintu depan rumah yang terbuat dari kayu jati tebal berderit terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Sosok Bapak muncul dari balik pintu.
Jantung Rania rasanya seperti diremas melihat pemandangan di depannya. Bapak tampak jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Rania melihatnya setahun lalu. Kemeja batik longgar yang dipakainya terlihat kebesaran di tubuhnya yang kini agak membungkuk. Namun, seulas senyum tulus terbit di wajah keriput lelaki tua itu saat melihat ketiga anaknya berkumpul.
"Sudah sampai ternyata. Bapak kira kalian kejebak macet di tol," suara Bapak terdengar serak, namun tetap memiliki kehangatan yang akrab di telinga mereka.
Andra maju lebih dulu, menyalami tangan Bapak yang terasa kasar dan kering, diikuti oleh Rania yang langsung memeluk pundak ringkih sang ayah. Rania menghirup dalam-dalam aroma tubuh Bapak—campuran minyak kayu putih dan tembakau—aroma yang selalu membuatnya merasa aman. Dika menjadi yang terakhir, dia menyalami Bapak dengan canggung, menepuk lengan Bapak pelan tanpa berani menatap mata ayahnya terlalu lama. Rasa bersalah dari masa lalu masih merantai lehernya.
"Ayo masuk, bawa barang-barang kalian ke kamar. Kamar kalian sudah Bapak bersihkan kemarin," kata Bapak sambil melangkah mundur, memberi jalan.
Saat melangkah memasuki ruang tengah, langkah Rania mendadak terhenti. Matanya tertuju pada lemari jam besar yang berdiri di sudut ruangan. Di permukaan kayu lemari itu, berderet belasan kertas catatan kecil (sticky notes) berwarna kuning terang.