Malam semakin larut, namun udara di dalam ruang makan terasa semakin menghimpit. Pertanyaan Rania menggantung di udara, tidak berjawab. Bapak hanya terdiam, menatap kosong ke arah tumpahan air yang baru saja dibersihkan oleh Dika.
"Pak?" Rania mengulang panggilannya, kali ini suaranya melunak, digantikan oleh rasa cemas yang tiba-tiba merayap di dadanya. "Maksud Bapak ... mumpung Bapak masih bisa tanda tangan itu apa?"
Bapak mendongak, menatap Rania. Namun, ada sesuatu yang ganjil dalam tatapan itu. Sorot mata teduh yang tadi menyambut mereka di pintu depan kini tampak redup, tergantikan oleh kilatan kebingungan yang asing. Bapak mengerjapkan mata beberapa kali, seolah sedang mencoba mengenali ruangan tempat beliau berada saat ini.
"Bapak ... Bapak cuma lelah," jawab Bapak akhirnya, suaranya terdengar sangat pelan. Beliau bangkit berdiri dari kursi kayu, memegangi pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa limbung. "Bapak mau istirahat dulu ke kamar. Kalian habiskan supnya, ya. Jangan lupa ... jangan lupa kunci pintu depan."
Andra menatap punggung Bapak yang berjalan perlahan menjauhi ruang makan. Langkah kakinya terdengar berat, disusul bunyi pintu kamar utama yang tertutup rapat.
"Tuh, lihat kan?" Andra melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengembalikan otoritasnya yang sempat goyah. "Bapak sudah lelah fisik. Mengurus rumah sebesar ini sendirian itu menguras energi orang tua. Makanya rencana penjualan ini harus cepat dieksekusi."
"Mas, bisa gak sih semalam ini aja stop mikirin kertas-kertas dokumen itu?" Rania berdiri, matanya berkaca-karena emosi yang tertahan. "Ada yang gak beres sama Bapak, Mas! Apa Mas gak ngerasa kalau sikap Bapak aneh sejak kita datang tadi?"
"Aneh apa? Orang tua wajar kalau pelupa dan fisiknya menurun, Rania. Kamu aja yang terlalu sensitif dan dramatis," balas Andra dingin, lalu bangkit berdiri meninggalkan meja makan menuju ruang tengah, berniat memeriksa berkas-berkas di dalam tas kerjanya.
Rania mengembuskan napas frustrasi. Dia menoleh ke arah Dika, berharap mendapat dukungan dari si bungsu. Namun, Dika hanya menatap mangkuk supnya yang masih setengah penuh dengan pandangan kosong. Tangan Dika meremas celana denimnya sendiri. Rasa bersalah di dada pemuda itu justru semakin pekat setiap kali melihat kerapuhan Bapak.
"Gua mau keluar bentar. Cari angin," ujar Dika pelan sambil berdiri, mengambil jaketnya tanpa menunggu jawaban dari Rania.