Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #4

Badai di Ruang Tengah

Suara keributan di teras belakang menembus sunyinya koridor rumah, memecah kesunyian malam yang pekat. Rania, yang masih berdiri terpaku di depan celah pintu kamar Bapak dengan air mata yang belum mengering, tersentak. Isak tangisnya terhenti seketika oleh suara teriakan Dika yang terdengar panik dan gemetar dari arah dapur.

Tanpa berpikir panjang, Rania berlari melintasi ruang tengah yang gelap. Di saat yang sama, pintu kamar depan terbuka dengan sentakan keras. Andra keluar dengan wajah kusut dan mata mengantuk, masih memegang ponselnya yang menyala.

"Ada apa sih? Ribut-ribut malam-malam begini?" tanya Andra dengan nada ketus, terganggu dari tidurnya yang tidak nyenyak.

"Mas! Di belakang! Bapak!" Rania tidak sempat menjelaskan. Dia terus berlari menuju pintu teras belakang, melewati meja makan yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu ketegangan mereka. Andra, yang akhirnya menangkap nada urgensi dalam suara adiknya, menyimpan ponsel ke saku celana dan bergegas menyusul.

Di teras belakang yang berlantai semen dingin, pemandangan yang tersaji membuat darah keduanya mendadak berdesir hebat.

Di bawah curahan hujan deras yang tampias, Dika sedang memeluk tubuh Bapak dari belakang dengan sekuat tenaga. Bapak, yang hanya mengenakan kaus kutang putih dan sarung lecek, meronta-ronta dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran orang tua seumurannya. Kedua kaki Bapak yang telanjang sudah menginjak tanah halaman belakang yang becek dan berlumpur. Beliau terus mendesak maju, mencoba melepaskan diri dari kuncian lengan Dika.

"Lepas! Kamu siapa?! Jangan halangi saya!" teriak Bapak, suaranya melengking tinggi, dipenuhi histeria dan ketakutan yang murni. "Ibu sudah nunggu di pasar! Hujannya deras, kasihan Ibu tidak bawa payung! Saya harus menjemputnya!"

"Pak! Ini Dika, Pak! Ini rumah Bapak! Ibu sudah gak ada, Pak! Tolong, Pak, masuk!" Dika berteriak menembus deru hujan, suaranya parau, hampir habis. Air hujan bercampur keringat membasahi wajahnya yang pucat. Remaja yang biasanya bersikap acuh tak acuh itu kini tampak sangat ketakutan. Lengan denimnya yang lecek sudah dipenuhi noda lumpur hitam.

"Bapak!" Rania menjerit, langsung berlari turun ke halaman, mengabaikan dinginnya air hujan yang seketika mengguyur seluruh tubuhnya hingga basah kuyup. Dia menangkap tangan kiri Bapak yang menggapai-gapai udara. "Pak, ini Rania, Pak! Lihat Rania, Pak!"

Andra membeku di ambang pintu teras. Matanya terbelalak menatap kekacauan di depannya. Otak logisnya yang selalu punya jawaban untuk setiap masalah bisnis mendadak macet total. Dia melihat Ayahnya—sosok yang dulu begitu tegas, disiplin, dan menjadi pilar pelindung keluarga—kini bertingkah seperti anak kecil yang tersesat di tengah malam, kehilangan arah, dan tidak mengenali darah dagingnya sendiri.

"Mas Andra! Jangan diam aja! Bantu pegangin Bapak!" teriakan Dika menyentak Andra kembali ke realitas.

Andra langsung menerjang maju ke tengah guyuran hujan. Dengan tubuhnya yang lebih besar, dia mencengkeram pundak Bapak dari depan, membantu Dika mengunci pergerakan lelaki tua itu. "Pak! Cukup, Pak! Ini Andra! Masuk sekarang!" Bentakan Andra kali ini tidak dipenuhi amarah, melainkan kepanikan yang mendalam.

Mendengar suara bariton Andra yang tegas, perlawanan Bapak mendadak mengendur. Seperti sebuah mesin yang kehabisan daya, tubuh ringkih itu tiba-tiba lemas. Jika Andra dan Dika tidak menahan ketiaknya, Bapak pasti sudah tersungkur ke atas tanah yang berlumpur.

Napas Bapak memburu, pendek-pendek dan berat. Pandangan matanya yang tadinya liar dan penuh ketakutan perlahan-lahan meredup, menyisakan kekosongan yang amat sangat. Beliau menatap Andra, lalu beralih ke Rania yang sedang menangis sesenggukan sambil memegangi tangannya, dan terakhir menatap Dika yang masih memeluknya dari belakang.

"Andra ...? Rania ...?" bisik Bapak dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan yang menghantam atap seng. Tubuhnya menggigil hebat karena kedinginan. "Kalian ... kenapa basah semua? Kenapa kita di luar?"

Rasa linglung itu kembali. Kesadaran Bapak seolah baru saja ditarik kembali dari tempat yang sangat jauh.

"Kita masuk ya, Pak. Di luar dingin," kata Andra, suaranya bergetar. Dia melepaskan cengkeramannya yang kaku, lalu bersama Dika, memapah tubuh Bapak yang lemas ke dalam rumah.

Mereka membawa Bapak ke ruang tengah. Rania dengan cekatan berlari ke kamar mandi, mengambil handuk kering dan selembar kain sarung bersih yang baru. Dengan jemari yang masih gemetar karena dingin dan sisa kepanikan, Rania mengeringkan rambut putih Bapak yang basah, sementara Dika membantu Bapak mengganti sarungnya yang penuh lumpur.

Bapak duduk di sofa rotan tua, meringkuk di balik selimut tebal yang dililitkan Rania ke tubuhnya. Beliau menunduk, menatap kedua tangannya sendiri yang berkerut dan memutih karena kedinginan. Kamar tengah yang luas itu mendadak terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara detak jam dinding kuno dan deru hujan di luar yang mulai mereda menjadi gerimis tipis.

Lihat selengkapnya