Pagi berikutnya datang dengan sisa-sisa aroma tanah basah yang menguar dari kebun mangga. Langit di atas rumah tua itu tampak bersih, menyisakan warna biru pucat setelah dibilas badai semalaman. Di dalam rumah, suasana tidak lagi sepekat kemarin. Keheningan yang ada kini bukan lagi karena kecanggangan atau amarah yang tertahan, melainkan sebuah ketenangan yang lahir dari penerimaan.
Andra menjadi yang pertama terbangun. Dia duduk di tepi ranjang kamar tamunya, menatap telapak tangannya sendiri yang semalam digunakan untuk memeluk Bapak. Pria itu menghela napas panjang, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang masih tampak sembab.
Saat melewati ruang tengah, dia melihat Rania sudah terjaga. Adiknya itu duduk di lantai beralaskan tikar pandan, dikelilingi oleh tumpukan album foto usang berperekat plastik yang sebagian besarnya sudah menguning. Di sampingnya, sebuah laptop terbuka, menampilkan dokumen kosong yang kini mulai terisi oleh barisan kalimat.
"Bapak masih tidur?" tanya Andra dengan suara baritonnya yang kini terdengar jauh lebih lembut, kehilangan nada ketus yang biasanya melekat.
Rania mendongak, membenulkan letak kacamatanya. "Masih, Mas. Tadi subuh Rania sempat intip ke kamarnya. Bapak tidur nyenyak sekali. Mungkin karena semalam ...." Rania tidak melanjutkan kalimatnya, namun Andra tahu persis apa yang dimaksud adiknya. Semalam adalah puncak pelepasan beban yang luar biasa bagi mereka semua.
"Dika mana?" Andra melirik ke arah sofa panjang.
"Di dapur. Lagi bikin kopi sama nyiapin sarapan," jawab Rania.
Andra mengangguk pelan, lalu melangkah menuju dapur. Di sana, dia menemukan Dika sedang berdiri di depan kompor, memperhatikan air yang mulai mendidih di dalam teko aluminium tua. Gaya rambut gondrongnya diikat asal-asalan ke belakang.
"Dik," panggil Andra.
Dika menoleh, agak terkejut melihat kakaknya. Dia mematikan kompor, lalu menuangkan air panas ke dalam dua cangkir kaleng berisi bubuk kopi hitam. "Eh, Mas. Ini ... kopi hitam. Gak pakai gula kayak biasanya, kan?" Dika menyodorkan satu cangkir kepada Andra.
Andra menerima cangkir tersebut. Kehangatan menjalar ke telapak tangannya. Dia menyesap kopi itu perlahan, merasakan pahit yang pekat di lidahnya. "Terima kasih, Dik. Soal ... soal semalam, Mas minta maaf ya. Mas terlalu emosional."
Dika tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang jarang dia tunjukkan di depan Andra. "Gua juga minta maaf, Mas. Selama ini gua selalu mikir Mas cuma peduli sama bisnis dan uang. Gua gak tahu kalau Mas juga lagi kesusahan di Jakarta."
Andra menepuk pundak Dika pelan. "Kita hadapi ini sama-sama setelah ini. Rumah ini ... tetap harus kita urus penjualannya. Bukan karena Mas butuh uangnya lagi, tapi karena Bapak memang sudah tidak bisa ditinggal sendiri di sini. Mas sudah putuskan untuk sewa rumah kontrakan yang layak di dekat rumah Mas di Jakarta. Biar Mas bisa pantau Bapak setiap hari setelah pulang kantor."
"Gua setuju, Mas," kata Dika mantap. "Gua juga bakal sering datang. Malah, gua mikir mau cari kerjaan sampingan yang jam kerjanya lebih stabil di Jakarta, biar bisa gantian sama Rania buat jaga Bapak."
Sekitar jam delapan pagi, Bapak keluar dari kamarnya. Beliau sudah berpakaian rapi, mengenakan kemeja koko putih bersih dan sarung tenun. Wajahnya terlihat segar, walau gurat-gurat kelelahan akibat serangan demensia semalam masih tersisa di sudut matanya.