Proses mengepak barang ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang mereka duga. Bukan karena bobot fisik dari lemari-lemari jati atau tumpukan kardus yang harus diangkat, melainkan karena setiap benda yang mereka sentuh seolah memiliki jangkar yang menarik mereka kembali ke masa lalu.
Ruang tengah kini dipenuhi kardus-kardus korogasi cokelat yang dibeli Andra dari toko kelontong di depan gang. Lakban bening berdecit nyaring setiap kali ditarik, memecah kesunyian rumah yang perlahan-lahan mulai kehilangan isinya.
Andra bertugas di ruang kerja Bapak, memilah tumpukan buku pelajaran tua, silabus mengajar peninggalan masa-masa Bapak menjadi guru, dan tumpukan map berisi surat-surat penting. Di pojok ruangan, dia menemukan sebuah kotak kaleng bekas biskuit yang sudah berkarat di bagian pinggirnya. Ketika membukanya, Andra terpaku.
Di dalam kaleng itu terdapat kuitansi-kuitansi pembayaran kuliahnya belasan tahun lalu, beberapa lembar saham lama yang nilainya sudah mati, dan selembar surat perjanjian utang piutang yang sudah lunas. Andra memandangi tanggal di kuitansi itu—itu adalah tahun di mana bisnis Bapak sebagai peternak ayam potong gulung tikar akibat wabah, tahun yang sama ketika Andra hampir putus kuliah di semester lima.
Dulu, Andra mengira uang semesterannya yang mendadak aman adalah hasil dari keajaiban atau beasiswa. Sekarang dia tahu, kuitansi-kuitansi ini adalah bukti dari malam-malam tanpa tidur Bapak, bukti dari harga diri seorang lelaki yang rela meminjam uang ke sana kemari demi memastikan anak sulungnya tetap memegang masa depan.
Andra mengusap permukaan kaleng itu, matanya terasa panas. Dia menutupnya perlahan dan memasukkannya ke dalam kardus bertuliskan 'Pribadi Bapak – Penting'.
Sementara itu, di dapur, Rania sedang membantu Bapak memilah peralatan makan milik almarhumah Ibu. Bapak duduk di kursi kayu sambil memegangi sebuah cobek batu yang permukaannya sudah halus karena sering digunakan.
"Ini jangan dibuang, Nya," kata Bapak, meraba pinggiran cobek dengan jemarinya yang keriput. "Ini hadiah pernikahan dari nenekmu dulu. Ibu paling suka pakai ini kalau bikin sambal terasi kesukaan Mas Andra."
Rania tersenyum, menerima cobek yang cukup berat itu dari tangan Bapak. "Gak dibuang, Pak. Nanti Rania bawa ke Jakarta. Biar nanti di sana Rania bisa belajar bikin sambal yang mirip punya Ibu."