Hari keberangkatan tiba dengan kabut tipis yang menyelimuti halaman. Udara pagi terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah kota kecil ini pun enggan melepaskan salah satu penghuni tertuanya. Di depan rumah, sebuah truk pindahan berwarna kuning pudar sudah terparkir sejak pukul enam pagi. Dua orang petugas dengan seragam logistik sibuk mengangkut kardus-kardus cokelat yang sudah dilakban rapi dari dalam rumah ke bak truk.
Andra berdiri di samping bak truk, memegang sebuah papan jalan kayu untuk mencocokkan jumlah barang yang masuk. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya jauh lebih hidup dibandingkan seminggu yang lalu ketika dia pertama kali menginjakkan kaki di sini.
"Mas, kasur lipat yang di kamar belakang dimasukkan ke truk atau taruh di mobil saja?" tanya Dika, muncul dari dalam gang sambil memanggul gulungan kasur busa. Kaos hitamnya tampak agak kotor karena debu, dan keringat tipis membasahi dahinya meski udara pagi masih dingin.
"Taruh di bagasi mobil Mas saja, Dik. Nanti kalau di jalan Bapak lelah, kita bisa bentangkan di kursi tengah biar Bapak bisa selonjoran," jawab Andra tanpa mengalihkan pandangan dari daftar barangnya.
Dika mengangguk, lalu berjalan menuju mobil SUV milik Andra yang terparkir di bawah pohon mangga. Bagasi mobil itu sudah hampir penuh dengan barang-barang yang sifatnya lebih personal dan ringkih—seperti album foto keluarga, lukisan pemandangan peninggalan almarhumah Ibu, dan satu kotak kaleng biskuit karatan yang berisi dokumen berharga milik Bapak. Di belakang mobil, terikat erat di atas sebuah besi penopang khusus, motor Astrea Grand tua milik Bapak yang sudah bersih dan mengilap setelah diperbaiki Dika kemarin sore.
Sementara itu, di dalam ruang tengah yang kini sudah kosong melongpong, Rania sedang menemani Bapak duduk di satu-satunya sofa rotan yang sengaja belum diangkut. Tanpa lemari jam besar, tanpa meja makan kayu, dan tanpa tirai-tirai kain tenun di jendela, rumah itu terasa asing. Suara langkah kaki mereka menggema di lantai tegel abu-abu, menciptakan kesan sunyi yang aneh.
Bapak duduk diam, kedua tangannya bertumpu di atas paha. Pandangannya lurus menatap dinding semen di depannya. Di dinding itu, terdapat bercak-bercak segi empat berwarna lebih terang—bekas tempat bingkai foto-foto keluarga yang selama puluhan tahun tergantung di sana sebelum dicopot kemarin sore.
"Pak, minum tehnya dulu. Mumpung masih hangat," kata Rania, menyodorkan sebuah cangkir plastik berisi teh manis hangat. Mereka sudah tidak memiliki gelas kaca lagi; semua sudah dikemas di dalam kardus di dalam truk.
Bapak menoleh perlahan, menatap cangkir itu, lalu menatap Rania. Pagi ini, ingatan Bapak berada di fase yang abu-abu. Beliau tidak mengamuk atau linglung seperti malam badai itu, tetapi ada kekosongan yang jelas di matanya. Beliau seperti seorang penonton yang sedang menyaksikan film yang diputar terlalu cepat.
"Kita ... mau ke mana, Nya?" tanya Bapak, suaranya pelan dan serak.
Rania tersenyum lembut, menggenggam tangan Bapak yang terasa dingin. "Kita mau ke Jakarta, Pak. Mau pindah ke rumah baru yang dekat sama Mas Andra dan Dika. Biar nanti kalau sore, Dika bisa bonceng Bapak jalan-jalan pakai motor Grand Bapak."
Bapak terdiam sejenak, meresapi kalimat Rania. Nama 'Jakarta' tampaknya memicu sesuatu di dalam kepalanya. Beliau menatap keluar jendela, ke arah truk kuning yang sedang ditutup terpalnya oleh petugas. "Rumah ini ... sudah dijual ya?"
"Sudah, Pak. Kemarin Mas Andra sudah urus semuanya dengan pembeli baru. Orang yang beli baik kok, Pak. Mereka janji gak akan tebang pohon mangga di depan," Rania mencoba memberikan ketenangan, tahu betapa Bapak sangat mencintai pohon mangga yang dulu beliau tanam bersama Ibu saat mereka pertama kali membangun rumah ini.
Bapak mengangguk-angguk kecil. Setitik air mata yang bening muncul di sudut mata tuanya yang mulai keriput, namun beliau cepat-cepat menyekanya dengan ujung lengan kemeja kokonya. "Baguslah ... Rumah ini terlalu luas kalau Bapak cuma sendirian. Bapak sering dengar suara Ibu di dapur, Nya. Kalau Bapak tengok, gak ada siapa-siapa. Bapak ... Bapak takut kalau lama-lama di sini, Bapak malah makin gila."