Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #8

Di Bawah Atap yang Baru

Deru bising Jakarta menyambut mereka dengan hawa panas yang langsung menerpa begitu pintu mobil dibuka. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, SUV milik Andra akhirnya berhenti di sebuah kompleks perumahan asri di daerah Jakarta Selatan. Rumah kontrakan baru itu tidak besar, sangat kontras jika dibandingkan dengan rumah kolonial mereka di kampung halaman. Jaraknya hanya terpisah tiga blok dari rumah tinggal Andra bersama keluarganya. Rumah itu memiliki halaman sekadarnya, namun sebuah pohon kamboja fosil dengan bunga-bunga putih yang wangi tumbuh di sudut pagar, memberikan sedikit nuansa keteduhan.

Truk pindahan kuning yang berangkat bersama mereka tadi pagi sudah terparkir di depan pagar kayu minimalis. Dua petugas logistik mulai menurunkan kardus-kardus cokelat yang kini tampak agak penyok di bagian sudutnya.

Andra turun lebih dulu, meregangkan otot-otot punggungnya yang kaku setelah menyetir berjam-jam. Dia melangkah ke pintu tengah, membukanya dengan perlahan agar tidak mengejutkan Bapak yang baru saja terbangun dari tidur ayamnya.

"Pak, kita sudah sampai," kata Andra lembut, menyodorkan tangannya untuk membantu Bapak keluar dari mobil.

Bapak mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya menjelajahi deretan rumah-rumah modern bertingkat di sekeliling kompleks, lalu tertuju pada rumah di depannya. Wajah tua itu kembali menampakkan riak kebingungan. Labirin di kepala Bapak kembali bekerja, mencoba mencocokkan pemandangan asing ini dengan peta ingatan yang beliau miliki.

"Ini ... rumah siapa, Ndra?" tanya Bapak, suaranya terdengar mencicit, dipenuhi rasa tidak aman yang mendadak muncul. Beliau mencengkeram lengan kemeja Andra dengan erat.

"Ini rumah kita yang baru, Pak," Rania menyahut dari belakang, ikut turun dan mengusap pundak Bapak. "Rumah Mas Andra dekat sekali dari sini. Dika dan Rania juga tinggal di sini bareng Bapak. Ayo, Pak, kita lihat bagian dalamnya."

Bapak melangkah ragu-ragu. Kakinya yang bersandal jepit melintasi teras semen yang bersih. Begitu melewati ambang pintu depan, bau cat baru dan ruang kosong yang pengap menyengat indra penciuman mereka. Rumah itu bersih, berlantai keramik putih mengilap, namun terasa dingin karena belum memiliki "jiwa" di dalamnya.

Dika masuk membawa gulungan kasur busa di pundaknya, meletakkannya begitu saja di ruang tengah yang masih kosong. "Gua taruh di sini dulu ya, Mas. Biar Bapak bisa duduk."

Andra dengan cekatan membuka lipatan kasur tersebut, lalu membimbing Bapak untuk duduk di sana. Bapak menurut, duduk meringkuk sambil memeluk kedua lututnya, memperhatikan anak-anaknya yang mulai sibuk berlarian keluar masuk membawa kardus-kardus pakaian dan peralatan dapur.

Proses bongkar muat barang berlangsung hingga sore hari. Ketika matahari ibu kota mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang terhalang pucuk-pucuk gedung tinggi, rumah kontrakan itu mulai terlihat lebih manusiawi.

Dika menghabiskan waktu dua jam terakhir di halaman depan. Dengan kunci-kunci pas yang dia pinjam dari Andra, dia menurunkan motor Astrea Grand tua milik Bapak dari besi penopang mobil. Pemuda itu menepuk jok kulit motor yang hitam mengilap itu dengan bangga, lalu memarkirkannya dengan rapi di dalam carport kecil rumah tersebut.

"Mas, motor Bapak sudah turun. Mesinnya lancar, tadi gua tes starter langsung nyala," lapor Dika saat masuk ke dalam rumah, menemui Andra yang sedang merakit lemari pakaian plastik di kamar utama.

"Bagus, Dik. Makasih ya," sahut Andra tanpa menoleh, tangannya sibuk memukul bagian sambungan lemari dengan palu karet. "Tolong lihat Bapak di luar. Dari tadi dia diam saja di teras."

Dika berjalan ke teras depan. Di sana, Bapak sedang duduk di sebuah kursi lipat plastik yang sengaja ditaruh Rania. Mata tua Bapak menatap lurus ke arah jalanan kompleks yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan mulai menyala otomatis satu per satu.

Dika duduk di lantai teras, tepat di samping kursi Bapak, menyandarkan punggungnya pada tiang beton. Dia mengambil sebungkus rokok dari sakunya, namun mengurungkan niat untuk menyalakannya begitu mengingat Bapak ada di sampingnya.

"Pak," panggil Dika pelan.

Lihat selengkapnya