Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #9

Lembaran Baru yang Retak

Waktu di Jakarta bergerak seperti arus sungai yang deras setelah hujan hulu. Tiga bulan telah berlalu sejak kepindahan mereka ke rumah kontrakan kecil berpagar kayu minimalis itu. Lemari-lemari plastik sudah berdiri kokoh, gorden rajutan buatan almarhumah Ibu yang dibawa Rania dari kampung sudah terpasang rapi di jendela depan, dan aroma cat baru telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh wangi masakan rumahan yang akrab.

Kehidupan tiga bersaudara itu perlahan-lahan menemukan ritme yang baru. Andra kini lebih sering terlihat di kompleks itu setelah jam kantornya usai, tidak lagi menghabiskan malam di kafe-kafe mewah Sudirman untuk pelarian dari tekanan bisnis. Hubungannya dengan Cynthia membaik secara perlahan; kehadiran Bapak menjadi jembatan emosional yang tidak disangka-sangka mampu melunakkan kebekuan pernikahan mereka.

Dika pun membuktikan ucapannya. Dia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih drum paruh waktu di sebuah sekolah musik anak-anak tidak jauh dari kompleks, memberikan penghasilan yang jauh lebih stabil daripada sekadar mengandalkan uang manggung kafe yang tidak menentu. Sementara Rania, sudut ruang tengah rumah itu kini telah resmi menjadi tempat kerjanya. Sebuah meja kayu kecil peninggalan Bapak ditaruh di sana, menghadap langsung ke arah sofa rotan tempat Bapak biasa menghabiskan waktu sorenya.

Namun, di balik semua keteraturan baru itu, tak satu pun dari mereka yang bisa menutup mata dari kenyataan bahwa kegelapan di dalam kepala Bapak terus merangkak maju. Penyakit demensia itu tidak pernah mengambil cuti. Ia bekerja dalam sunyi, mengikis lapisan-lapisan memori Bapak sedikit demi sedikit, seperti air yang menetes konstan di atas batu cadas.

Sore itu, langit Jakarta tampak kelabu, diselimuti polusi tipis yang membuat matahari senja terlihat seperti bulatan oranye yang redup. Rania sedang duduk di depan laptopnya, jemarinya menari di atas papan tik, mencoba menyelesaikan bab pertengahan dari novel terbarunya yang kini mengalir lancar karena terinspirasi oleh perjalanan keluarga mereka.

Di atas sofa rotan, beberapa meter di samping meja kerja Rania, Bapak sedang duduk mengenakan sarung tenun hijau dan kaus oblong putih. Pandangan mata Bapak lurus menatap layar televisi yang sedang menayangkan acara berita sore, namun fokus matanya tidak benar-benar berada di sana. Tatapan itu kosong, menerawang menembus kabut tebal yang sedang menggulung pikirannya sendiri.

Bapak mendadak bangkit berdiri. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Rania menghentikan ketikannya dan menoleh.

Bapak berjalan perlahan menuju koridor kecil yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur. Langkah kakinya diseret, menciptakan bunyi gesekan yang familier di atas lantai keramik putih. Namun, setelah berjalan lima langkah, Bapak mendadak berhenti di tengah koridor. Beliau berbalik, menatap ke arah kamar mandi, lalu berbalik lagi menatap ke arah pintu depan dengan wajah yang mulai diliputi kepanikan.

"Pak? Mau cari apa?" tanya Rania, melangkah mendekat sambil memegang sebuah pulpen.

Bapak menoleh ke arah Rania. Detik itu juga, dada Rania berdenyut nyeri. Kilatan kebingungan dan rasa tidak aman yang murni kembali menghiasi sepasang mata tua itu. Bapak meremas-remas ujung kaus oblongnya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Nduk ...," suara Bapak bergetar, terdengar sangat tipis dan rapuh. "Kamar mandi ... kamar mandi rumah kita di sebelah mana ya? Bapak ... Bapak mau buang air tapi lupa jalannya."

Rania memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya sendiri yang mendadak berpacu liar. Kejadian seperti ini mulai sering terjadi dalam dua minggu terakhir. Bapak mulai melupakan tata letak rumah kontrakan ini—sebuah indikasi medis bahwa kemampuan spasial beliau mulai menurun akibat perkembangan Alzheimer.

Rania tersenyum sangat lembut, menyembunyikan badai kesedihan di dadanya. Dia melangkah maju, meraih tangan kanan Bapak yang dingin dan gemetar, lalu menuntunnya dengan pelan. "Kamar mandinya di sebelah sini, Pak. Di sebelah kamar tidur Bapak. Ayo, Rania antar."

Bapak mengikuti langkah Rania seperti anak kecil yang patuh pada ibunya. Setelah mengantar Bapak ke pintu kamar mandi, Rania berdiri bersandar pada dinding koridor. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh satu tetes di atas pipinya. Dia menatap dinding putih di seberangnya, tempat selembar kertas catatan kuning tertempel setinggi mata dengan tulisan 'Kamar Mandi'.

Catatan itu ada di sana, persis di depan mata Bapak, namun penyakit itu telah melangkah lebih jauh hingga membuat Bapak bahkan lupa cara membaca tanda atau tidak lagi menyadari keberadaan kertas pengingat tersebut.

Malam harinya, hujan gerimis tipis mulai membasahi aspal kompleks ketika Andra dan Dika pulang hampir bersamaan. Andra masuk membawa satu kotak martabak manis kesukaan Bapak, sementara Dika langsung meletakkan jaketnya di gantungan belakang pintu dengan wajah lelah namun tetap menyempatkan diri tersenyum pada Rania.

Lihat selengkapnya