Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #10

Sisa Cahaya di Ujung Ingatan

Ruang tengah kembali menemukan keheningannya, namun bukan lagi keheningan yang mencekam karena kepanikan. Kabut tebal yang sempat mengunci ingatan Bapak perlahan-lahan menipis, meskipun tidak sepenuhnya hilang. Setelah ditenangkan oleh genggaman tangan Andra yang kokoh, Bapak akhirnya bersedia dituntun kembali ke kursi goyangnya. Beliau duduk dengan napas yang lebih teratur, memandangi jemarinya sendiri yang mulai dihiasi flek-flek penuaan.

Kiara yang sempat ketakutan kini bersembunyi di balik kaki ibunya. Cynthia dengan lembut mengusap rambut anaknya, memberikan isyarat bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Sementara Rania, yang masih berdiri di ambang pintu kamar, perlahan berjalan mendekat dan berlutut di samping kursi goyang Bapak, menggantikan posisi Andra.

"Pak," panggil Rania sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin sore. "Bapak mau istirahat di kamar?"

Bapak menoleh ke arah Rania. Kali ini, matanya tidak selinglung beberapa menit lalu. Ada kilatan pengenalan yang samar, seolah beliau mengenali suara itu meski nama 'Rania' masih tersangkut di suatu tempat di dalam kepalanya. "Nduk ... Bapak merepotkan ya? Bapak tadi ... Bapak tadi bingung sekali. Rasanya seperti bangun di tempat yang gelap dan tidak tahu jalan pulang."

Andra yang berdiri di belakang kursi Bapak tersenyum tipis, matanya masih tampak kemerahan. Dia menepuk pundak adiknya, memberi tanda agar Rania tidak perlu cemas. "Gak apa-apa, Pak. Bapak gak merepotkan sama sekali. Andra di sini, Rania di sini. Kita semua ada di sini untuk nemenin Bapak cari jalan pulang."

Cynthia melangkah maju, membawa segelas air putih hangat yang baru saja dia ambil dari dapur. Dia memberikannya kepada Bapak dengan gerakan yang sangat sopan. "Diminum dulu airnya, Pak, biar agak tenangan."

Bapak menerima gelas plastik itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar, meminumnya beberapa teguk, lalu mengembuskan napas panjang. Jiwa lelaki tua itu seperti baru saja kembali dari perjalanan jauh yang melelahkan. Beliau menatap sekeliling ruangan sekali lagi, dan kali ini, tatapannya berhenti pada lembaran kertas gambar milik Kiara yang tergeletak di atas meja kayu.

Bapak mengulurkan tangannya yang keriput, mengambil kertas itu. Beliau memandangi gambar rumah dengan pohon kamboja besar peninggalan coretan cucunya. Semburat senyuman yang sangat tipis akhirnya terukir di bibir Bapak.

"Gambar ini ... bagus," kata Bapak lirih. Beliau menatap Kiara yang masih mengintip dari balik gaun Cynthia. "Sini, Nduk. Mbah sudah gak bingung lagi. Maafkan Mbah ya tadi bikin kamu takut."

Mendengar suara kakeknya kembali lembut seperti biasa, Kiara melepaskan pegangannya pada baju Cynthia. Anak perempuan itu berjalan mendekat dengan ragu-ragu, lalu menyandarkan kepalanya di lutut Bapak. Bapak mengusap rambut kepang dua cucunya itu dengan kasih sayang yang tidak pernah berkurang, meski pikirannya sering kali berkhianat.

Sore harinya, sekitar pukul empat, Dika pulang dari tempatnya mengajar musik. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, dia langsung merasakan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap dari udara ruang tengah. Dia melihat Andra dan Cynthia sedang duduk di meja makan sambil berbicara dengan nada berbisik yang serius, sementara Rania sedang menyisir rambut Bapak di dekat jendela.

Dika meletakkan tas ranselnya di atas meja, lalu menghampiri kakaknya. "Ada apa, Mas? Kok suasananya kayak habis ada badai?"

Andra menghela napas panjang, lalu menceritakan kejadian siang tadi dengan suara rendah agar tidak terdengar sampai ke ruang tengah. Wajah Dika seketika berubah mengeras saat mendengar bahwa Bapak sempat melupakan mereka semua. Ada rasa bersalah yang mendadak menusuk dada pemuda itu; dia merasa tidak ada di samping ayahnya saat momen paling menakutkan itu terjadi.

"Gua ... gua harusnya gak usah ambil kelas siang tadi," sesal Dika, tangannya mengepal di atas meja.

"Gak boleh begitu, Dik. Kamu punya tanggung jawab pekerjaan, dan ini semua sudah jadi kesepakatan kita untuk bagi sif," potong Cynthia dengan nada keibuan yang menenangkan. "Kejadian seperti ini memang fase yang harus kita lalui. Dokter sudah bilang sejak awal, kan? Yang penting sekarang adalah bagaimana kita meresponsnya tanpa membuat Bapak merasa bersalah."

Andra mengangguk setuju dengan ucapan istrinya. Dia menatap Dika dengan pandangan penuh dukungan. "Istriku benar, Dik. Malah, Mas mau minta tolong sama kamu. Sore ini cuacanya agak adem setelah mendung tadi siang. Tolong bawa Bapak jalan-jalan pakai motor Grand-nya keliling kompleks. Mas rasa Bapak butuh udara segar setelah stres siang tadi."

Dika tertegun sejenak, lalu mengangguk mantap. "Siap, Mas. Gua siapin motornya sekarang."

Lihat selengkapnya