Musim berganti di ibu kota, ditandai dengan hujan sore hari yang kini lebih sering mengguyur jalanan paving blok kompleks perumahan. Enam bulan telah berlalu sejak malam di mana dua lembar kertas catatan kuning itu tertempel di dinding kamar Bapak. Rumah kontrakan kecil berpagar kayu itu kini tidak hanya menjadi tempat bernaung, melainkan sebuah benteng pertahanan emosional yang dirawat bersama dengan penuh ketelatenan.
Setiap sudut rumah telah beradaptasi sepenuhnya dengan kebutuhan Bapak. Di lorong menuju dapur, kini terdapat deretan stiker penunjuk arah berwarna kontras yang dibuat Dika dari bahan skotlet. Di pintu kamar mandi, terpasang sebuah papan kayu kecil dengan ukiran tulisan 'Kamar Mandi' yang cukup besar. Rania bahkan sengaja menyusun album foto keluarga berukuran besar di atas meja kopi ruang tengah, lengkap dengan tulisan nama di bawah setiap wajah—sebuah upaya harian untuk menjaga agar ingatan Bapak tidak tergelincir terlalu jauh ke dalam kegelapan.
Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit bersih setelah diguyur hujan semalaman. Aroma tanah basah berbaur dengan wangi kopi hitam yang baru saja diseduh Rania di dapur.
"Mas Andra, ini berkas evaluasi medis Bapak yang bulan lalu. Tolong dibawa ya, hari ini kan jadwal kontrol ke dokter spesialis," kata Rania, berjalan ke ruang tengah sambil menyodorkan sebuah map plastik berwarna biru.
Andra yang baru saja selesai merapikan dasinya di depan cermin menoleh. Dia menerima map tersebut dengan anggukan cepat. "Ya, Nya. Mas sudah minta izin ke kantor untuk datang agak siang hari ini. Dika mana? Dia ikut nemenin, kan?"
"Dika lagi manasin motor Grand Bapak di depan, Mas. Katanya sekalian mau beli sarapan bubur ayam buat Bapak," sahut Rania sambil merapikan letak bantal di sofa rotan.
Sejak pembagian sif diperketat, Andra dan Dika menjadi tim yang solid untuk urusan medis Bapak. Andra menangani urusan administrasi dan konsultasi berat, sementara Dika dengan telaten menemani Bapak selama proses pemeriksaan yang sering kali memakan waktu berjam-jam di ruang tunggu rumah sakit.
Dari arah kamar utama, pintu perlahan terbuka. Bapak melangkah keluar dengan mengenakan kemeja batik lengan pendek berwarna cokelat tua. Rambut putihnya yang mulai menipis tampak rapi setelah disisir. Langkah kaki Bapak pagi ini terlihat sedikit lebih lambat dari biasanya, seolah setiap pijakan membutuhkan konsentrasi penuh dari otaknya.
"Ndra ... kita mau pergi sekarang?" tanya Bapak, suaranya terdengar jernih namun ada nada letih yang tersirat di sana.
Andra segera melangkah mendekat, meraih tangan Bapak dan menuntunnya menuju kursi makan. "Iya, Pak. Kita kontrol bulanan ke rumah sakit. Biar dokter bisa lihat kalau Bapak makin sehat karena rajin jalan-jalan sore sama Dika."
Bapak tersenyum tipis, duduk dengan perlahan. "Bapak gak merasa sakit, Ndra. Cuma ... kepala Bapak ini kadang rasanya penuh sekali, seperti banyak orang bicara tapi Bapak gak tahu mereka ngomong apa."
Andra terdiam sejenak, menatap wajah ayahnya yang semakin tirus. Dia tahu betul apa yang dimaksud Bapak. Itu adalah fase di mana stimulasi lingkungan luar mulai terasa membebani otak Bapak yang sedang berjuang melawan atrofi sel saraf. "Gak apa-apa, Pak. Nanti di rumah sakit kita minta vitamin baru sama dokter biar kepala Bapak terasa lebih enteng."
Perjalanan menuju rumah sakit pusat di daerah Salemba memakan waktu hampir satu jam karena kemacetan pagi Jakarta yang padat. Di dalam mobil, Bapak lebih banyak diam, menatap keluar jendela ke arah deretan gedung bertingkat dan flayover yang rumit. Dika yang duduk di samping Bapak sesekali mengalihkan perhatian ayahnya dengan menceritakan perkembangan murid-murid les drumnya yang menggemaskan, sebuah trik yang cukup ampuh untuk mencegah Bapak merasa cemas di tengah lingkungan yang bising.
Sesampainya di rumah sakit, setelah melewati antrean administrasi yang cukup panjang, mereka akhirnya dipanggil masuk ke dalam ruang praktik Dokter Gunawan, spesialis saraf yang selama ini menangani Bapak.
Dokter Gunawan, seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai perak dan sorot mata yang sangat teduh, menyapa Bapak dengan hangat. Beliau mulai melakukan beberapa tes kognitif sederhana, seperti meminta Bapak menyebutkan hari, menghitung mundur dari angka seratus dengan selisih tujuh, dan menggambar bentuk jam dinding lengkap dengan jarum penunjuk waktu.