Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #12

Labirin yang Meluas

Waktu tidak pernah meminta izin untuk melesat pergi, dan Jakarta di luar sana terus bergerak tanpa memedulikan pergumulan sunyi di dalam rumah kontrakan kecil itu. Sembilan bulan telah berlalu sejak kepindahan mereka. Musim kemarau kini tiba, membawa udara siang yang menyengat dan debu jalanan yang beterbangan ditiup angin kota.

Di dalam rumah, tanda-tanda perkembangan penyakit Bapak semakin hari semakin nyata, laksana coretan-coretan tak beraturan yang mengaburkan lukisan indah masa lalu. Labirin di dalam kepala Bapak kini telah meluas, menciptakan sekat-sekat baru yang semakin rumit dan sulit ditembus oleh anak-anaknya.

Bapak kini mulai mengalami kesulitan dalam mengenali fungsi benda-benda sederhana di sekitarnya. Dua hari lalu, Rania mendapati Bapak sedang mencoba menyisir rambutnya menggunakan sebatang sendok makan di depan cermin. Kemarin malam, Bapak duduk selama setengah jam di depan telepon genggam jadulnya, menatap benda itu dengan dahi berkerut dalam, sebelum akhirnya bertanya pada Dika dengan suara bergetar ketakutan, "Le, kotak hitam ini kenapa terus menatap Bapak?"

Perubahan-perubahan kecil namun konstan itu menuntut energi fisik dan mental yang luar biasa dari ketiga bersaudara. Namun, alih-alih pecah oleh frustrasi seperti di masa lalu, situasi ini justru merekatkan genggaman tangan mereka menjadi lebih erat.

Pagi itu, udara gerah sudah terasa sejak pukul tujuh. Andra duduk di meja makan kecil, setelan kemeja kerjanya sudah rapi, namun lengan bajunya digulung hingga ke siku. Di depannya, semangkuk bubur ayam yang dibeli Dika tadi pagi masih menyisakan sedikit uap.

Andra sedang menyuapi Bapak. Ini adalah rutinitas baru yang dia ambil alih setiap kali mendapat sif pagi sebelum berangkat ke kantor.

"Ayo, Pak, satu sendok lagi. Buburnya enak, pakai cakwe kesukaan Bapak," kata Andra dengan suara yang disetel serendah dan selembut mungkin.

Bapak duduk bersandar pada kursi makan kayu. Mulutnya terbuka perlahan, menerima suapan dari anak sulungnya. Namun, kunyahan Bapak lambat, seolah otot-otot rahangnya pun sedang lupa bagaimana cara bekerja secara otomatis. Pandangan mata Bapak lurus menatap bahu Andra, kosong tanpa pendar pengenalan yang utuh.

"Kamu ... sopir baru ya?" tanya Bapak tiba-kira, memecah keheningan di antara mereka. Suara Bapak terdengar canggung dan penuh kehati-hatian. "Maaf, saya lupa nama kamu. Kepala saya ini ... seperti ada yang menghapus isinya setiap kali saya berkedip."

Gerakan tangan Andra yang hendak mengambil suapan bubur berikutnya mendadak terhenti di udara. Dada pria itu terasa seperti ditusuk jarum es yang dingin. Meskipun Dokter Gunawan sudah memperingatkan tentang fase ini, mendengarnya langsung dari bibir Ayah sendiri bahwa dia dianggap sebagai orang asing—seorang sopir—tetap saja menimbulkan luka yang berdarah di dalam hatinya.

Andra menarik napas dalam-dalam, mengunci rasa perih itu di sudut egonya yang paling dalam. Dia meletakkan sendok ke dalam mangkuk, lalu menatap sepasang mata tua yang rabun itu dengan senyuman paling tulus yang bisa dia pasang.

"Bukan, Pak. Saya bukan sopir baru," jawab Andra lembut, meraih selembar tisu untuk menyeka sisa bubur di sudut bibir Bapak. "Saya Andra, Pak. Anak sulung Bapak yang dulu paling kaku. Bapak gak perlu repot-repot ingat nama saya sekarang, yang penting Bapak tahu kalau saya di sini buat jagain Bapak."

Bapak mengangguk-angguk kecil, seolah menerima penjelasan itu tanpa berniat mencerna lebih dalam. "Oh ... Andra. Nama yang bagus. Saya punya anak namanya Andra juga dulu ... dia pintar, sekarang sudah jadi orang sukses di kota besar."

Andra memalingkan wajahnya sebentar ke arah jendela dapur, menyeka sudut matanya yang mendadak basah sebelum Bapak menyadarinya. Sungguh sebuah ironi yang getir; Bapak melupakan sosok Andra yang sedang berdiri di depannya, namun tetap menyimpan memori tentang rasa bangga terhadap anaknya di dalam laci ingatannya yang terdalam.

Di sudut ruang tengah, Rania sedang duduk di depan meja kerja kecilnya. Laptopnya menyala, menampilkan halaman terakhir dari naskah novelnya yang sudah menyentuh kata 'SELESAI'. Hari ini adalah hari penyerahan draf final kepada editornya di Jakarta. Namun, tidak ada perayaan atau rasa lega yang berlebihan di wajah Rania. Pandangannya justru lebih sering teralih pada tumpukan kertas memo kuning baru yang kini mulai dia tempel di dinding dekat meja kerjanya sendiri—catatan harian untuk memantau penurunan kondisi fisik Bapak.

Dika keluar dari kamar belakang, membawa tas ransel berisi stik drum dan buku catatan mengajarnya. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah musik.

Lihat selengkapnya