Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #13

Retakan di Balik Dinding

Agustus baru saja dimulai, namun udara di dalam rumah kontrakan kecil berpagar kayu minimalis di Jakarta itu terasa lebih pengap dari biasanya. Sinar matahari siang memantul kencang di atas aspal kompleks, mengirimkan hawa panas yang menyusup lewat celah-celah ventilasi. Di koridor tengah, lima lembar kertas catatan kuning peninggalan Bapak yang terbingkai kaca tampak diam, seolah menahan napas menyaksikan tiga bersaudara yang kini mulai kehabisan sisa-sisa kesabaran mereka.

Tahap awal merawat Bapak yang penuh dengan romantisme heroisme persaudaraan telah lewat. Kini, mereka berada di fase melelahkan: rutinitas yang monoton, fisik yang terkuras, dan biaya operasional yang mulai membengkak seiring dengan meningkatnya dosis obat-obatan serta kebutuhan popok dewasa Bapak.

Siang itu, ruang tengah berantakan. Rania duduk di lantai dengan laptop terbuka di pangkuannya, namun matanya menatap kosong ke arah layar yang hanya berisi tiga baris kalimat baru untuk kelanjutan novel Melawan Arus: Jejak Rania. Di sudut lain, Dika sedang sibuk membersihkan sisa tumpahan bubur instan di atas meja kayu peninggalan Bapak dengan wajah cemberut.

Bapak baru saja tertidur setelah dua jam penuh berteriak-teriak histeris, menuduh Rania menyembunyikan kunci Toko "Maju Mapan" yang sebenarnya sudah lama runtuh di kampung halaman.

"Nya, lu bisa gak sih kalau pas jamnya Bapak makan siang, fokus ke Bapak dulu? Jangan cuma melototin laptop," ucap Dika, suaranya ketus sambil melempar kain lap ke dalam ember plastik dengan hentakan keras. "Tadi gua hampir telat ke studio gara-gara harus megangin Bapak yang ngamuk mau kabur lewat jendela."

Rania mengembuskan napas panjang, menutup laptopnya dengan hentakan yang tidak kalah kasar. "Dik, gua dari jam lima subuh sudah bangun. Gua yang mandiin Bapak, gua yang bersihin kotorannya waktu dia ngompol di celana, gua juga yang masak buburnya. Gua cuma minta waktu satu jam buat nulis, Dik! Deadline draf buku gua ini tinggal dua minggu lagi, dan kalau gua gak selesai, uang muka dari penerbit harus dikembalikan!"

"Ya terus maksud lu gua gak kerja? Gua di studio juga babak belur, Nya! Murid-murid gua bulan ini ujian sertifikasi, kalau gua gak fokus, nama gua jelek di depan pemilik studio!" balas Dika, suaranya mulai naik satu oktav.

"Sudah! Bisa diam gak kalian berdua?!"

Suara bariton Andra yang mendadak muncul dari arah pintu depan seketika memotong perdebatan itu. Abang sulung mereka melangkah masuk dengan kemeja kantor yang sudah kusut, dasinya sudah dilonggarkan, dan wajahnya tampak luar biasa tegang. Andra baru saja pulang lebih awal setelah mendapat telepon darurat dari Rania dua jam lalu tentang kondisi Bapak yang tidak terkendali.

Andra mengempaskan tas kerjanya ke atas sofa rotan, lalu duduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Keheningan yang mencekam mendadak merayap, mengisi setiap sudut ruangan yang panas.

"Mas punya kabar buruk," ucap Andra setelah beberapa saat terdiam. Matanya menatap lurus ke arah kedua adiknya yang kini ikut terdiam, kemarahan mereka mendadak surut digantikan oleh rasa cemas.

"Kabar buruk apa, Mas? Soal perusahaan?" tanya Rania hati-hati.

Andra mengangguk perlahan, suaranya terdengar sangat berat. "Proses audit internal perusahaan Mas mengalami masalah serius. Ada beberapa investasi ekspansi kemarin yang macet karena vendor lokal wanprestasi. Akibatnya, aliran kas perusahaan membeku untuk tiga bulan ke depan. Mas ... Mas terpaksa harus memotong pengeluaran pribadi secara drastis, termasuk subsidi bulanan untuk operasional rumah kontrakan ini dan biaya obat-obatan khusus Bapak."

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Rania dan Dika terpaku. Selama ini, Andra adalah jangkar finansial utama keluarga mereka. Dengan gaji dan tunjangannya sebagai direktur, Andra menanggung hampir 70% biaya sewa rumah Jakarta dan obat-obatan impor Bapak yang mahal agar kabut di kepala beliau tidak memburuk dengan cepat.

Lihat selengkapnya