Matahari pagi menembus celah-celah gorden ruang tengah dengan malas, memantulkan pendar cahaya di atas lantai keramik yang kini telah bersih dari bercak darah. Bau karbol yang menyengat sisa pembersihan semalam masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma kopi hitam yang mengepul dari cangkir di atas meja kerja kayu Bapak.
Suasana rumah kontrakan Jakarta itu begitu sunyi, sebuah jenis kesunyian yang berat dan melelahkan, seolah dinding-dinding rumah pun ikut menahan napas setelah badai emosi yang mengoyak batin mereka beberapa jam lalu.
Andra duduk di kursi rotan dengan kedua tangan menopang dagunya. Kemeja kerjanya yang kemarin kini sudah diganti dengan kaus oblong polos yang tampak longgar. Matanya yang merah menatap kosong ke arah gelas kopi yang mulai mendingin. Dia pulang tepat jam lima subuh tadi, setelah semalaman mengemudikan mobil tanpa arah di sepanjang jalur tol lingkar luar, mencoba melarikan diri dari kenyataan bahwa dia telah gagal mengendalikan situasi sebagai anak sulung.
Pintu kamar tengah berdecit pelan. Rania melangkah keluar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Di dahinya, selembar plester medis putih menutupi luka robek kecil akibat benturan semalam. Wajahnya pias, dengan lingkaran hitam yang mempertegas bahwa dia tidak memejamkan mata sedetik pun setelah insiden itu.
Andra mendongak, matanya tertuju langsung pada plester di dahi adiknya. Ada rasa bersalah yang teramat besar yang seketika mencuat di dada Andra, membuat tenggorokannya terasa tersumbat.
"Sudah diobati dengan benar, Nya?" tanya Andra, suaranya parau dan rendah.
Rania mengangguk pelan, lalu duduk di lantai, bersandar pada kaki meja kayu, tepat di samping kursi Andra. "Sudah, Mas. Cuma luka kecil, gak perlu dijahit. Semalam Dika yang bantu bersihkan dan kasih antiseptik."
"Bapak gimana?"
"Baru bisa tidur nyenyak jam empat subuh tadi, setelah efek sisa obatnya bekerja. Rania sudah cek suhunya, normal. Tapi ... sepertinya tenaganya habis total karena semalam mengamuk," jawab Rania, suaranya terdengar datar, seolah energinya untuk merasa sedih pun sudah terkuras habis.
Andra mengembuskan napas panjang, meraup wajahnya dengan kasar. "Mas minta maaf, Nya. Mas egois semalam. Mas meninggalkan kalian di saat kondisi sedang genting-gentingnya hanya karena Mas gak siap menghadapi kenyataan kalau keuangan Mas lagi jatuh."
Rania menoleh, menatap abangnya dengan pandangan mata yang melunak. Dia tahu beban Andra tidak kalah berat. Menjadi tameng finansial sekaligus figur pengganti Bapak bagi dua adik yang memiliki ego seniman bukanlah perkara mudah. "Rania gak menyalahkan Mas Andra. Kita semua lagi di titik jenuh. Tekanan dari luar dan dalam rumah datang bersamaan."
Tak lama kemudian, pintu kamar belakang terbuka. Dika keluar dengan langkah yang terseret. Penampilannya berantakan; rambutnya acak-alakan dan matanya bengkak. Dia tidak berani menatap langsung ke arah Rania ataupun Andra. Dika berjalan lurus menuju dispenser, menuangkan air putih ke dalam gelas dengan tangan yang masih sedikit gemetar.