Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #15

Pilihan Pahit

September datang tanpa permisi, membawa serta hawa kering yang membuat debu-debu Jakarta lebih cepat menempel di kaca jendela. Semburat kejernihan sesaat yang dialami Bapak di akhir Agustus lalu rupanya hanyalah sebuah jeda singkat sebelum kabut tebal kembali menggulung ingatan beliau. Kali ini, dampaknya jauh lebih nyata dan menguras isi dompet serta tenaga.

Di atas meja kayu ruang tengah, draf novel Rania yang sudah tercetak rapi tampak ditumpuk berdekatan dengan tumpukan kuitansi medis dari klinik saraf. Meskipun Rania berhasil mengejar deadline dan mengamankan uang muka dari penerbit, dana segar itu langsung amblas dalam waktu kurang dari seminggu. Efek keterlambatan obat dosis tinggi pada pertengahan bulan lalu membuat Bapak mulai mengalami halusinasi visual yang konstan; beliau sering melihat bayangan hitam di sudut langit-langit kamar dan menolak untuk makan karena mengira makanannya telah dicampur racun.

Sore itu, suasana di ruang tengah kembali menegang, namun kali ini tidak ada teriakan. Yang ada hanyalah sebuah keheningan yang dingin dan menusuk, jenis keheningan yang muncul ketika sebuah keputusan sulit harus segera diambil.

Andra duduk dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, di hadapannya tersebar beberapa pamflet berwarna putih-biru dengan logo sebuah yayasan kesehatan swasta. Di bagian atas pamflet tersebut tertulis dengan huruf kapital yang tegas: GRIYA ASRA DEMENSIA – FACILITY & CARE CENTER.

"Mas sudah berkonsultasi dengan Dokter kemarin setelah mengantar Bapak kontrol," Andra membuka suara, memecah kesunyian dengan nada yang sengaja dibuat sedatar mungkin agar emosinya tidak goyah. "Dokter bilang, fase Bapak sudah memasuki demensia vaskular tahap lanjut dengan kecenderungan agitasi psikotik. Lingkungan rumah kontrakan biasa seperti ini ... sudah tidak lagi aman untuk Bapak, juga untuk kita."

Rania, yang sedang menempelkan kompres hangat pada dahinya yang kini menyisakan bekas luka samar, langsung menegakkan punggungnya. Matanya tertuju pada pamflet di atas meja. "Maksud Mas Andra apa? Mas mau menitipkan Bapak ke panti jompo?"

"Ini bukan panti jompo biasa, Nya," potong Andra cepat, mencoba melunakkan istilah tersebut. "Ini fasilitas perawatan khusus. Di sana ada perawat medis yang siaga dua puluh empat jam, ada terapis okupasi untuk melatih sisa kognitif Bapak, dan kamarnya dirancang khusus agar pasien tidak bisa melukai diri sendiri atau orang lain saat mengamuk."

"Gua gak setuju, Mas!" suara Rania mendadak meninggi, matanya berkilat menahan amarah yang bercampur dengan rasa tidak percaya. "Kita sudah berjanji, Mas! Di depan makam Ibu, kita bertiga sepakat untuk merawat Bapak sampai akhir di rumah kita sendiri. Kalau kita kirim Bapak ke tempat asing seperti itu, itu sama saja dengan kita membuang Bapak karena kita sudah lelah!"

"Rania, tolong pakai logikamu sekarang, jangan cuma pakai perasaan!" Andra balas menekan, suaranya naik satu oktav. "Kamu lihat dahi kamu sendiri! Itu baru dahi yang robek. Bagaimana kalau besok-besok Bapak mengunci diri di kamar mandi lalu jatuh dan stroke-nya kambuh lagi saat kita semua sedang lengah? Mas harus membagi pikiran antara audit kantor yang belum selesai dan keselamatan kalian di rumah ini!"

Lihat selengkapnya