Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #16

Akar yang Terancam

Malam merayap makin larut, namun udara di ruang tengah masih terasa sebeku es. Pamflet Griya Asra Demensia dan draf surat perjanjian penjualan tanah pekarangan dari Mas Bowo masih tergeletak berdampingan di atas meja kayu peninggalan Bapak. Tiga bersaudara itu duduk dalam keheningan segitiga; Andra di kursi rotan, Rania menyembunyikan wajahnya di balik pelukan lutut di sofa, dan Dika menyandarkan punggungnya pada dinding koridor, tepat di bawah bayangan bingkai lima lembar kertas catatan kuning.

Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar panjang, memecah kesunyian dengan suara dengung yang menghentak. Layarnya menyala, menampilkan nama: Mas Bowo Yogyakarta.

Andra menatap layar itu sejenak, lalu mengembuskan napas pendek. Ia menekan tombol pengeras suara agar kedua adiknya bisa mendengar. "Halo, Mas Bowo."

"Halo, Ndra," suara Mas Bowo terdengar dari seberang telepon, berlatar belakang deru angin malam pedesaan yang khas. Suaranya terdengar tidak enak hati, namun ada desakan yang jelas di sana. "Maaf ya semalam ini menelepon. Mas cuma mau memastikan soal draf yang kemarin Mas kirim lewat WhatsApp. Makelarnya tadi sore datang lagi ke rumah Mas. Dia bilang, harga penawaran yang naik dua puluh persen itu hanya berlaku sampai besok siang jam dua. Lewat dari itu, mereka mau alihkan dana buat beli tanah di desa sebelah untuk gudang materialnya."

Andra melirik Rania. Adiknya itu sama sekali tidak bergerak, namun bahunya tampak menegang.

"Mas Bowo," Andra melunakkan suaranya. "Apa gak bisa diulur sampai akhir minggu? Kami di Jakarta masih berdiskusi. Ini ... ini keputusan yang berat buat kami, terutama buat Rania."

Di seberang sana, Mas Bowo mendesah pelan. "Mas mengerti, Ndra. Rania pasti yang paling berat karena dia yang paling perasa soal kenangan Ibumu. Tapi Mas Bowo bicara sebagai orang yang melihat rumah kampung kalian setiap hari. Pekarangan belakang itu kalau didiamkan terus, semaknya makin liar, pohon mangga Ibumu juga sudah mulai digerogoti rayap karena gak ada yang merawat. Uang hasil penjualan ini bisa menyelamatkan pengobatan Lek Budiman di Jakarta, toh? Menurut Mas, Ibumu di atas sana pasti lebih memilih tanah itu berubah jadi obat buat suaminya, daripada jadi semak belukar yang gak terurus."

Kalimat Mas Bowo barusan menghantam dada Rania dengan telak. Ia perlahan mengangkat kepalanya, matanya yang sembap menatap kosong ke arah Andra.

"Baik, Mas Bowo. Beri kami waktu sampai besok pagi jam sembilan. Kami akan beri jawaban pasti," kata Andra sebelum akhirnya menyudahi panggilan telepon tersebut.

Ruangan kembali jatuh dalam senyap. Dika memutar-mutar stik drum di jarinya dengan pelan, tatapannya kosong. "Ternyata waktu kita tinggal sampai besok pagi ya," bisiknya lirih.

Lihat selengkapnya