Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #17

Surat yang Tertinggal

Kepergian Bapak ke Griya Asra menorehkan jenis kesunyian baru di dalam rumah kontrakan. Tidak ada lagi suara ketukan pintu di tengah malam, tidak ada lagi aroma minyak kayu putih yang biasanya menguar dari kamar utama, dan tidak ada lagi kecemasan akut yang membayangi setiap detak jam dinding. Namun, kekosongan itu justru terasa ganjil, menyisakan ruang hampa yang besar di tengah-tengah ruang tengah yang biasanya riuh oleh ketegangan.

Dua hari setelah kepindahan Bapak, proses administrasi penjualan tanah pekarangan di kampung halaman berjalan dengan cepat. Mas Bowo mengabarkan bahwa uang muka dari makelar sudah masuk ke rekening penampungan. Sesuai kesepakatan, Andra langsung mengalokasikan dana tersebut untuk biaya perawatan Bapak selama setahun ke depan dan membayar uang jaminan di fasilitas barunya. Beban finansial yang sempat mencekik leher Andra perlahan mulai mengendur.

Sore itu, hujan rintik-rintik kembali membasahi Jakarta. Rania duduk di meja kerja kayu peninggalan Bapak di kamar utama. Kamar ini sengaja dibiarkan terbuka, membiarkan aliran udara segar menghapus sisa-sisa pengap masa lalu. Tugas Rania hari ini adalah mengemas barang-barang pribadi Bapak yang masih tertinggal di dalam laci meja kerja untuk dibawa saat kunjungan akhir pekan nanti.

Satu per satu barang dikeluarkan: kacamata baca tua yang gagangnya sudah patah lalu disambung solatip, beberapa struk pembelian pupuk dari tahun 2018, dan buku tabungan lama yang saldonya sudah nol sejak lama.

Saat Rania menarik laci paling bawah yang posisinya agak tersendat, jemarinya menyentuh sebuah gumpalan kain beludru hitam yang tersembunyi di sudut paling belakang. Dengan rasa penasaran, ia menarik kain itu keluar. Di dalamnya terbungkus sebuah buku agenda kecil berlogo Bank Rakyat Indonesia keluaran tahun 1995—tahun di mana Dika baru saja lahir ke dunia.

Rania membuka lembaran-lembaran buku agenda yang sudah menguning dan berbau apek itu. Sebagian besar berisi catatan utang piutang Toko "Maju Mapan" dan daftar harga sembako jadul. Namun, ketika lembarannya dibuka hampir mendekati halaman belakang, gerakan tangan Rania mendadak terhenti.

Di sana, terselip selembar surat dengan tulisan tangan yang sangat rapi menggunakan tinta biru. Itu bukan tulisan tangan Bapak yang kaku dan maskulin, melainkan tulisan tangan Ibu yang lembut dan penuh lekukan anggun. Surat itu ditulis beberapa minggu sebelum Ibu mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit daerah akibat kanker rahim sepuluh tahun yang lalu.

Rania membaca bait demi bait surat itu dengan jantung yang berdegup kencang, air matanya seketika merebak di pelupuk mata:

Pak, kalau nanti aku sudah gak ada, tolong jagain anak-anak ya. Andra itu anak sulung kita, dia keras kepalanya persis seperti kamu, tapi hatinya paling rapuh kalau melihat adik-adiknya kesusahan. Tolong ingatkan dia untuk jangan memikul semua beban dunia sendirian di pundaknya.

Rania itu anak wedok kita satu-satunya yang paling perasa. Dia suka menulis karena dia ingin mengabadikan apa yang tidak bisa dia genggam. Kalau dia sedang sedih atau mandek tulisannya, tolong buatkan dia teh melati hangat, Pak, seperti yang biasa aku lakukan.

Lihat selengkapnya