Oktober merayap masuk ke ibu kota dengan membawa angin hangat yang menyapu debu-debu perumahan. Sebulan setelah kepindahan Bapak ke Griya Asra dan penandatanganan surat penjualan tanah pekarangan kampung, ritme kehidupan di rumah kontrakan Jakarta perlahan-lahan menemukan keseimbangannya yang baru. Tidak ada lagi panik di tengah malam, tidak ada lagi kekhawatiran akan obat-obatan yang terlambat. Namun, kedamaian baru ini tidak didapatkan secara cuma-cuma; ia dibayar dengan kerja keras dan pengorbanan yang berkesinambungan dari ketiga bersaudara.
Setiap Sabtu pagi kini menjadi ritual sakral bagi Andra, Rania, dan Dika. Mereka bertiga selalu mengosongkan jadwal untuk berkunjung ke Griya Asra, sebuah kompleks perawatan berasrama yang teduh di kawasan Bogor yang hijau.
Pagi itu, mobil Andra membelah tol Jagorawi dengan lancar. Di dalam mobil, Rania sibuk merapikan sebaskom makanan kecil yang ia buat sendiri; nagasari dan pisang kukus kesukaan Bapak. Di kursi belakang, Dika tampak memangku gitar akustiknya, sesekali memetik senar secara perlahan untuk menyelaraskan nadanya.
"Gimana progress proyek restorasi rumah kampung, Mas?" tanya Rania, membalikkan badannya sedikit menatap Andra yang sedang mengemudi.
Andra tersenyum tipis, matanya tetap fokus menatap jalanan di depannya. "Mas Bowo kemarin kirim foto-fotonya lewat WhatsApp. Atap jati di bagian ruang tengah sudah selesai diperbaiki total. Kayunya diganti dengan jati tua kualitas super, anti rayap. Tukangnya bilang, pondasi utamanya masih sangat kuat, persis seperti waktu Bapak bangun dulu. Minggu depan mereka mulai garap ubin tegelnya."
"Alhamdulillah ...," gumam Rania lega. "Lalu modal buat ruko studio Dika gimana, Mas?"
"Semua dana awal sewa ruko dua tahun dan perlengkapan peredam suara sudah masuk ke rekening Dika minggu lalu," sahut Andra sambil melirik adik bungsunya lewat kaca spion tengah. "Gimana, Dik? Sudah mulai ditata tempatnya?"
Dika memamerkan senyum lebarnya dari kursi belakang. "Sudah, Mas! Tukang gypsumnya lagi pasang peredam suara di lantai dua. Rencananya akhir bulan ini semua instrumen drum dan pad latian sudah masuk. Gua juga sudah dapat sepuluh murid pertama yang mau daftar kelas privat reguler!"
"Bagus," puji Andra tulus. "Tapi ingat pesan Mas, kelola arus kasnya dengan disiplin. Sebagian keuntungan bersih harus kamu tabung buat dana darurat."