Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #19

Ritme yang Selaras

November menghampiri Jakarta dengan curah hujan yang mulai tinggi. Di ruang tengah rumah kontrakan, tidak ada lagi bayang-bayang ketegangan yang dulu sempat membuat udara di rumah ini terasa menyesakkan. Suara hujan yang jatuh di atas atap seng kini tidak lagi terdengar sebagai ancaman, melainkan sebagai latar suara yang menenangkan saat tiga bersaudara itu menjalankan ritme hidup mereka yang baru.

Sejak Bapak menempati Griya Asra dan penanganan medisnya berjalan stabil, rumah kontrakan ini berubah fungsi menjadi sebuah ruang retret spiritual yang produktif bagi mereka bertiga.

Siang itu, suara petikan gitar akustik dan dentuman pelan dari practice pad drum bersahut-sahutan dari arah kamar belakang. Dika sedang sibuk mengomposisi sebuah aransemen musik instrumen baru. Di mejanya, tersebar beberapa lembar partitur dan sebuah binder kulit hitam—binder tua tempat Rania dulu pernah mencatat beberapa kutipan kalimat ucapan Bapak di masa-masa awal sakitnya.

Dika menghentikan petikan gitarnya, mengambil pulpen, lalu menuliskan beberapa notasi baru di atas kertas partitur. Wajahnya tampak begitu fokus, dengan binar mata seorang seniman yang telah menemukan kembali jiwanya yang sempat hilang.

"Lagu baru, Dik?" tanya Rania yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar sambil membawa dua cangkir teh hangat.

Dika menoleh dan tersenyum, mengusap lehernya yang sedikit pegal. "Iya, Nya. Gua lagi menyelesaikan lagu instrumental buat penampilan perdana murid-murid studio gua bulan depan. Sekalian... lagu ini mau gua masukkan ke album mini solo drum akustik gua."

Rania meletakkan cangkir teh di meja Dika, lalu melirik judul yang tertulis di bagian atas kertas partitur tersebut. "Gema Lorong Belakang," baca Rania pelan.

"Inspirasinya dari mana, Dik?"

Lihat selengkapnya