Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #20

Restorasi Rumah Kampung

Desember datang membawa angin sejuk dari arah pegunungan yang menyapu bersih debu-debu musim kemarau di pedesaan Yogyakarta. Bagi Andra, Rania, dan Dika, bulan ini menjadi panggung utama bagi puncak pemulihan perjalanan batin mereka. Setelah bertahun-tahun ditinggalkan dan sempat berada di titik terendah saat Bapak jatuh sakit, rumah lama peninggalan keluarga di kampung halaman itu kini berdiri kembali dengan sangat gagah.

Pagi itu, sebuah minibus travel dan mobil Andra terparkir rapi di pekarangan depan rumah lama. Proses restorasi yang memakan waktu tiga bulan penuh telah selesai seratus persen. Atap kayu jati tua yang dulu digerogoti rayap kini telah diganti dengan balok-balok jati kualitas super yang kokoh dan dipelitur kilap. Tegel motif kuno berwarna abu-abu dan hijau lumut—persis seperti yang dipilih Ibu puluhan tahun lalu—kembali menghiasi seluruh lantai rumah, memberikan sensasi dingin yang menenangkan setiap kali telapak kaki menyentuhnya.

"Luar biasa, Ndra. Benar-benar persis seperti waktu Lek Budiman masih muda dulu," puji Mas Bowo yang berdiri di teras depan bersama Andra, sambil menyesap kopi hitam hangat dari cangkir seng.

Andra tersenyum penuh rasa syukur, merapikan kerah kemeja kasualnya. "Ini semua berkat Mas Bowo juga yang mau mengawasi tukang-tukangnya dari dekat. Tanpa Mas Bowo, restorasi ini gak bakal sepresisi ini."

"Ah, Mas cuma membantu sedikit. Yang penting sekarang rumah ini sudah punya 'roh'nya lagi," balas Mas Bowo sambil menepuk-nepuk pilar jati teras yang kokoh.

Di ruang tengah yang luas, Rania dan Cynthia sibuk menata beberapa perabotan kayu yang baru diresmikan. Meja kerja kayu milik Bapak yang dulu dibawa ke kontrakan Jakarta kini telah dikembalikan ke posisi aslinya di sudut ruangan, di bawah jendela kayu berdaun ganda yang menghadap ke pekarangan. Sementara itu, Kiara tampak berlari-lari kecil di atas lantai tegel yang bersih, tertawa gembira menikmati luasnya rumah Mbah di kampung.

Dika keluar dari kamar belakang sambil membawa sepasang stik drumnya. Di sudut ruang keluarga, sebuah sudut kecil telah disiapkan khusus untuknya: sebuah perangkat drum akustik dengan sentuhan warna kayu alami yang selaras dengan interior rumah.

"Gua tes akustik ruangaannya ya, Nya!" teriak Dika riang.

Jemari Dika mengetukkan stik drumnya secara perlahan pada permukaan snare dan cymbal. Suara benturan kayu dan logam itu bergema dengan sangat hangat di dalam ruangan beratap tinggi tersebut, tidak lagi terdengar bising seperti saat di kontrakan Jakarta yang sempit, melainkan terdengar seperti sebuah melodi kehidupan yang menghidupkan kembali suasana rumah yang lama bisu.

Lihat selengkapnya