Januari di tahun berikutnya datang dengan hembusan napas yang dingin dan hening. Hujan gerimis yang membasahi Jakarta sejak pagi seolah ikut membawa atmosfer perpisahan yang telah lama diantisipasi, namun tetap terasa menggetarkan dada saat momen itu akhirnya benar-benar tiba.
Dua minggu setelah kepulangan berharga dari syukuran rumah kampung di Yogyakarta, kondisi fisik Bapak mengalami penurunan secara drastis secara alami seiring usia dan komplikasi tahap akhir demensianya. Tim dokter dari Griya Asra telah menyampaikan dengan sangat bijak bahwa fungsi organ-organ vital Bapak mulai melemah secara perlahan, dan hari-hari terbaik beliau di dunia ini sedang memasuki babak penutupnya.
Atas kesepakatan bersama, Andra, Rania, dan Dika memutuskan untuk membawa Bapak kembali ke rumah kontrakan Jakarta untuk merawat beliau di hari-hari terakhirnya. Mereka ingin Bapak mengembuskan napas terakhir di tengah kehangatan anak-anaknya, di bawah atap tempat mereka bertiga telah ditempa menjadi satu ikatan persaudaraan yang tak terpisahkan.
Sore itu, ruang tengah rumah kontrakan terasa begitu hening. Suara mesin oksigen portabel berdetak konstan dan lembut di sudut ruangan. Kasur medis khusus telah ditempatkan di tengah-tengah ruang keluarga, tepat di bawah lima lembar kertas catatan kuning peninggalan Bapak yang terbingkai rapi di dinding koridor.
Bapak berbaring dengan tenang di atas ranjang. Wajah tuanya tampak sangat damai, tidak ada lagi jejak-jejak gelisah atau ketakutan yang dulu sering menyiksa jiwanya. Napasnya teratur, meskipun kian hari kian pelan dan dalam.
Andra duduk di sisi kanan ranjang, memegang erat tangan kanan Bapak yang terasa makin dingin. Di sisi kiri, Rania duduk sambil memegang mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil, sesekali menyapu dahi dan pipi sang ayah dengan penuh kelembutan. Sementara itu, Dika duduk di bagian kaki ranjang, memijat lembut jemari kaki Bapak dengan minyak kayu putih kesukaan beliau.
"Mas ...," bisik Rania lirih, matanya menatap grafik monitor portabel yang diletakkan dokter di samping meja. "Napas Bapak makin lambat."