Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #22

Warisan Kertas Kuning

Prosesi pemakaman berjalan dengan hikmat di pemakaman umum desa di kampung halaman, tepat di samping pusara Ibu yang teduh di bawah naungan pohon kamboja tua. Tanah merah yang masih basah itu kini ditaburi oleh helai-helai bunga mawar dan melati segar yang menguarkan aroma wangi ke udara sore. Orang-orang desa, Mas Bowo, serta kerabat jauh telah perlahan melangkah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Andra, Rania, dan Dika yang masih setia berlutut di samping dua nisan yang kini berdiri berdampingan.

Matahari sore menyemburkan warna jingga keemasan di ufuk barat, membiaskan pendar cahaya yang hangat di atas rumput-rumput makam. Tidak ada lagi duka yang menyayat atau jeritan histeris di pemakaman itu. Rasa kehilangan yang teramat besar kini telah bertransformasi menjadi sebuah keheningan yang syahdu, sarat akan rasa syukur dan keikhlasan yang mutlak.

Andra mengusap batu nisan Bapak yang masih baru dengan telapak tangannya, lalu mengalihkan tatapannya pada nisan Ibu di sebelahnya. "Pak ... Bu ... tugas kalian berdua di dunia ini sudah selesai. Bapak sekarang sudah tenang, sudah kembali ingat semuanya dan berkumpul lagi bersama Ibu di tempat yang lebih indah."

Rania menyiramkan sisa air mawar dari kendi tanah liat ke atas gundukan tanah basah itu. Bibirnya mengukir sebuah senyuman tipis yang begitu tulus, meskipun matanya masih sedikit sembap. "Kami bertiga akan selalu menjaga nama baik Bapak dan Ibu ke mana pun kami melangkah. Rumah kampung kita sudah berdiri kokoh lagi, seperti yang Bapak impikan."

Dika berdiri perlahan, menepuk-nepuk sisa tanah merah yang menempel di celananya. Dia menatap kedua kakaknya dengan binar mata yang jauh lebih matang daripada beberapa bulan lalu. "Ayo, Mas, Nya. Kita kembali ke rumah kontrakan Jakarta untuk membereskan barang-barang terakhir. Kita harus selesaikan apa yang sudah kita mulai di sana."

Dua hari kemudian, suasana di dalam rumah kontrakan kecil berpagar kayu minimalis di Jakarta terasa sangat berbeda dari biasanya. Kardus-kardus tebal berukuran besar telah terisi penuh dan tertata rapi di dekat pintu depan. Truk jasa pindahan sudah dijadwalkan datang nanti sore untuk mengangkut sisa perabotan mereka; barang-barang Dika akan diboyong menuju paviliun barunya di Jakarta Pusat, barang-barang Andra akan diangkut menuju rumah barunya di Tangerang, sementara sisa tumpahan buku, draf tulisan, dan dokumen kepenulisan Rania akan dikirimkan langsung ke rumah restorasi di Yogyakarta.

Rumah kontrakan ini hampir sepenuhnya melompong. Suara gema langkah kaki mereka terdengar nyaring menembus dinding-dinding yang kini polos. Namun, hanya tersisa satu hal yang belum tersentuh di koridor tengah: lima lembar kertas catatan kuning peninggalan Bapak yang masih tertempel dengan rapi di dinding.

Andra melangkah mendekati dinding koridor tersebut. Di tangannya, dia memegang sebuah obeng kecil dan selembar kain beludru tebal. Rania dan Dika berdiri tepat di belakangnya, memperhatikan setiap gerakan abang sulung mereka dengan penuh rasa takzim.

Dengan sangat hati-hati, Andra melepaskan sekrup demi sekrup yang menahan bingkai kaca tersebut pada dinding kayu. Suara putaran logam sekrup yang pelan bergetar nyaring di dalam ruangan yang kosong. Saat bingkai itu akhirnya terlepas secara utuh dari dinding, Dika dengan sigap menopang bagian bawahnya agar tidak terguncang atau goyah.

Lihat selengkapnya