Januari bergulir membawa lembaran kalender baru yang bersih. Bagi Andra, Rania, dan Dika, awal tahun ini bukan lagi sekadar pergantian angka di atas kertas, melainkan sebuah gerbang menuju fase kehidupan yang benar-benar baru. Riuh rendah peluncuran novel Melawan Arus: Jejak Rania milik Rania pada akhir tahun lalu masih menyisakan gaung hangat di media sosial dan komunitas literasi, namun di dalam dada mereka bertiga, kehidupan kini mengalir tenang menuju muaranya.
Masa kontrakan rumah di Jakarta telah resmi berakhir dua minggu setelah kepergian Bapak. Hari ini, rumah kontrakan kecil berpagar kayu minimalis itu sudah sepenuhnya kosong. Tidak ada lagi sisa-sisa kenangan emosional yang tertinggal di lorong belakang atau ruang tengah; semua beban, air mata, dan kelelahan masa lalu telah tersaring bersih, mengkristal menjadi kedewasaan batin yang abadi.
Sore itu, sebelum benar-benar berpisah menuju garis takdir masing-masing, Andra, Rania, dan Dika berkumpul di ruang tengah yang sudah melompong tanpa perabotan. Hanya ada tiga kotak kardus khusus berisi barang-barang paling sakral yang tersisa di atas lantai keramik: meja kayu peninggalan Bapak, papan nama kayu jati tua Toko "Maju Mapan", dan bingkai kaca berisi lima lembar kertas catatan kuning asli.
Andra berlutut di dekat kardus tersebut, memegang kain beludru tebal untuk melilit bingkai catatan kuning Bapak dengan sangat hati-hati. Dika bergegas mendekat, menopang bagian bawah bingkai kayu agar kaca tebalnya tidak terguncang.
"Biar gua yang pegang bawahnya, Mas. Awas kacanya retak," kata Dika lembut.
Andra mengembuskan napas lega saat seluruh bagian bingkai berhasil terbungkus rapi. "Terima kasih, Dik. Ini barang paling berharga di rumah ini. Tolong masukkan ke dalam kotak kayu yang sudah dilapisi busa."
Rania menyandarkan punggungnya pada kusen pintu, menatap dinding koridor yang kini tampak bersih tanpa tempelan kertas kuning. "Aneh ya," ucap Dika sambil melilitkan lakban tebal pada kardus penyimpanan. "Dulu waktu kita pertama kali bawa semua barang Bapak ke rumah kontrakan ini, rasanya rumah ini sempit dan sesak banget sama kecemasan. Sekarang, pas semua barang sudah dikemas, rumah ini malah terasa begitu luas dan lega."
Rania tersenyum tipis, menatap kedua saudara laki-lakinya. "Itu karena dulu kepala kita penuh dengan penolakan, Dik. Kita menganggap merawat Bapak adalah beban yang mempersempit ruang gerak kita. Begitu kita belajar menerima dan saling memaafkan, ruang di dalam hati kita melebar. Makanya rumah ini ikut terasa lapang."
Andra berdiri, mengusap tangannya yang berdebu. Sebagai anak sulung yang telah menuntun nakhoda keluarga melewati badai paling dahsyat, ada binar kebanggaan yang tak ternilai di matanya.