Sisa Waktu di Rumah Kita

Sutan Azis
Chapter #24

Simfoni yang Abadi

Bulan Juni membawa ketenangan yang hangat di pekarangan rumah restorasi Yogyakarta. Pohon mangga pengganti yang ditanam Dika dan Mas Bowo di bekas pekarangan belakang kini telah tumbuh setinggi dada manusia, daun-daun mudanya yang hijau kemerahan berkilat ditimpa sinar matahari pagi.

Pagi itu, rumah kampung terasa riuh namun tertata. Suara petikan gitar Dika dari sudut teras berpadu dengan ketukan halus jarum jam dinding kuno dan aroma kebul kopi tubruk yang diseduh Rania di dapur. Hari ini adalah tanggal kelahiran Ibu—sebuah tanggal yang sejak dahulu selalu menjadi pengingat tak tertulis bagi keluarga mereka untuk pulang dan duduk melingkar.

Andra tiba dari Tangerang menjelang makan siang bersama Cynthia dan Kiara. Langkah kakinya mantap saat melintasi pintu depan kayu jati yang kini telah dipelitur sempurna.

"Pagi, Nya, Dik," sapa Andra sambil meletakkan tas travel-nya di samping meja kayu Bapak.

"Mas Andra!" Dika meletakkan gitarnya dan menyambut abangnya dengan pelukan singkat namun erat.

Matanya tertuju pada meja kerja Bapak di ruang tengah. Di atas meja kayu tua itu, draf fisik edisi cetak ulang kelima dari novel Melawan Arus: Jejak Rania milik Rania bersanding dengan plakat penghargaan studio musik Dika. Di atasnya, terbingkai anggun lima lembar kertas catatan kuning Bapak yang seolah menjadi saksi bisu sekaligus fondasi bagi semua pencapaian tersebut.

Lihat selengkapnya