Sisi Bangku

Dennis Aditya Amien
Chapter #2

Terus terang saja

Cuaca pada sore hari terlihat lebih cerah. Senja sore datang dari sisi barat kota. Sinar kekuningan bergerak mengisi sudut-sudut kota. Sudut yang tak terisi tetap merasakan aroma sore yang harum pasca hujan mengguyur Kota Surabaya pada hari itu. Air hujan yang tidak beruntung akan terjebak dalam genangan, memantulkan wujud asli dan palsu kepada makhluk yang mau melihatnya. Semua menyatu menjadi kesatuan yang indah nan bewarna. Namun keragaman warna tersebut tidak terlihat pada salah satu pemakaman umum tembok gede yang terletak pada Kecamatan Bubutan Surabaya...

“Mbah, dosa apa yang sudah bapak perbuat? Kalau memang ia berdosa, balasan setimpal apa sudah bapak dapatkan? Jika belum, kenapa aku yang harus menanggung? Jika sudah, kenapa aku tetap harus menanggung?

Terjatuhlah kedua penopang tubuh ini ke dalam dasar yang hina dan putus asa, sebab semua ini sudah gila, semua ini sudah tak ada artinya, apalah guna semua ini? Bukankah menggali tanah yang kupijak sekarang terlihat lebih menenangkan ketimbang harus hidup dengan warisan stigma bodoh itu?

Begitu banyak yang ia pertanyakan, Panji memilih untuk tidak melanjutkannya lebih dalam. Ia pikir sudah cukup, rasanya Tuhan masih cukup adil memperlakukan orang malang ini.

Begitu angin mengantar Panji pulang kembali ke rumah. Ia tak tahu apakah harus mengangkat kepalanya seperti ular kobra yang merasa terancam, atau cukup menunduk layaknya burung kakaktua yang berlindung dari ancaman. Jalan lurus adalah jawaban yang pasti, kini ia harus kembali kepada janji yang sudah ia buat 6 tahun silam.

 

*

 

Masih di petang yang sama, Panji kembali masuk ke dalam rumah, menyenderkan seluruh badannya. Terbangun lagi setelah sebuah buku mampu menarik perhatian. Ia teringat akan pesan mbah Ji akan buku itu, kurang lebih begini, “Rawat buku ini le, apapun itu perasaanmu kepada ayah, tetap rawat buku ini. Siapa tahu kamu bisa mendapatkan petunjuk dari buku ini”

Tak pernah sedikitpun ia merasa perlu membuka buku tersebut. Mungkin selama ini ia selalu merasa bahagia? Tidak juga. Atau karena sampul buku yang terlihat kusut dan menyeramkan? Mungkin saja, tapi tidak juga. Apapun itu, buku tersebut akan terus ia jaga. Bagaimanapun juga, bait-bait yang tertulis dalam buku itu merupakan hasil karangan dari ayah kandungnya sendiri.

Semua buku yang ada dikumpulkan, ia tak memperhatikan secara seksama apa saja yang masuk ke dalam kantong tas. Setelah semua selesai, perhatian tertuju pada sebatang pensil dan secarik kertas yang tersisa pada lemari kayu jati berukuran kurang lebih setinggi badannya. Dua alat yang cukup familiar dengan jari jemarinya, ia teringat akan sesuatu akan kabar dari salah satu teman sesama eks tapol.

Bung, bukankah kita dulu pernah berjanji tentang langit mana yang akan kita gapai nanti setelah bebas? Terlihat indah bukan? Ah lupakan saja, rencana kepulanganku tidak sesuai rencana yang diproyeksikan oleh pikiranku. Nyatanya semua sudah pergi, sisa-sisa jiwa tersebut masih bisa aku rasakan dengan jelas, namun itu hanya akan membuatku sedih saja.

Bagaimana kabar keluargamu bung? Mengingat wajah istrimu yang begitu tulus saat menjeputmu keluar, tangisan anakmu yang sudah lama tidak mendengar wejangan dari ayahnya, aku rasa kau kembali menemukan secerah harapan. Aku harap proyeksi pikiranmu itu benar adanya, dan nyata pada masanya. Keberuntungan akan mengalahkan kesialanmu bung, percayalah padaku. Selamat memulai kehidupan baru di kota sana

Tentangku kau tidak perlu khawatir, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tetapi ada satu hal yang kau perlu ingat, aku sudah pernah menceritakannya bukan? Atau belum? Yang jelas ada satu permata yang masih tergantung di sana. Aku menggantungkannya sebelum kejadian mengerikan itu terjadi. Aku tidak tahu apakah ia masih memegang tali yang aku pasang? Entahlah, yang jelas sekarang aku akan ke sana. Melepaskan yang tergantung, meraih pucuk-pucuk jarinya secara halus, layaknya sari-sari inti tali yang mengikat, dan mengikatnya kembali dengan tali yang baru. Aku akan ke Jakarta sebentar lagi.

 

Panji, Juli 1971

Lihat selengkapnya