Sisi Bangku

Dennis Aditya Amien
Chapter #3

Porsi Gerudukan

Sepulang dari Kodam, Panji menyempatkan untuk mampir di warung rujak Mbok Siti, salah satu tempat makan favorit ibu dan kakeknya. Warung kecil dan sederhana terletak di sekitaran depan gang, beralaskan tanah, dikelilingi triplek bewarna hijau dengan aroma khas cat baru. Aroma petis yang khas sudah cukup membuat sinyal lapar berbunyi, apalagi setelah 6 tahun lebih bau tempe busuk terhirup sia-sia oleh indra penciumannya.

“Bu, rujak cingurnya satu nggeh.”

“Loh sampeyan toh nak, Duduk dulu le, ibu buatkan sebentar.”

“Nggeh bu."

“Ngomong-ngomong, kabar anak-anak bagaimana ya bu?” Tanya Panji dengan rasa penasaran dan lapar.

“Teman-temanmu itu? Wah semuanya sudah pada merantau le. Doni si jangkung itu, dia sekarang kerja di perkebunan apel Malang. Biasanya pulang pas hari raya. Kalau si Amir, kata ibunya kerja di perkapalan. Saya kira kerja di bagian kapal. Memang tidak salah kalau dibilang kerja di dalam kapal, tapi jadi pedagang asongan. Nah satu lagi teman dekatmu itu, siapa ya namanya, lupa ibu.

“Siapa bu?"

“Itu yang biasanya suka mancing bareng sampeyan.” Tanya Bu Siti sembari mengulek bumbu rujaknya

“Owalah, Joko?”

“Nah iya, Joko. Kabar terakhir dari Joko ada di Kediri 4 tahun yang lalu. Sekarang sudah tidak pernah balik ke sini lagi."

Panji menelan ludah sesaat ketika mendengar kabar Joko. Ia tahu betul apa yang menjadi keinginan Joko sebelum mereka terakhir bertemu. Sebagai teman hidup dan seperjuangan mancing, bertukar pandangan adalah hal yang lumrah terjadi. Mungkin saja nasibnya jauh lebih beuntung daripada Joko, atau kebalikannya? Siapa yang tahu hal itu?

“Ini le rujaknya.”

“Nggeh bu, matur nuwun.”

Aroma petis khas dengan warna hitam pekat, ditambah berbagai macam potongan seperti pencit, bengkoang, tempe, tahu, dan lontong mengingatkan panji pada sesuatu. Sekitar 11 tahun yang lalu, setelah ibunya memutuskan untuk tinggal di Surabaya, seporsi rujak yang dibeli dari mbok Siti mampu bertahan di dalam bungkusan daun pisang selama 2 hari. Perpindahan tempat kerja membuat Harti harus menunggu penempatan tugas selanjutnya di salah satu Sekolah Rakyat Surabaya. Maka mau tidak mau ia harus menyiasati insting untuk bertahan hidup selama mungkin. Di tambah kondisi mbah Ji yang sedang sakit turut menyumbang keprihatinan pada saat itu.

“Mbok, selama saya di Kediri, apa ada orang berbadan tegap menemui mbah saya?”

“Kurang tau ya le, tapi kalo mbok lihat-lihat, mbahmu jadi jarang keluar rumah semenjak sampeyan ke kediri. Paling keluar kalau ada perlu.”

“Memangnya mbah jarang makan di sini sebelum dia meninggal?"

“Nggak le, lah wong kata tetanggamu, sekadar duduk-duduk di depan saja sudah tidak pernah, apalagi mampir ke warung mbok.”

Cukup mengherankan memang. Mengingat Mbah Ji terbilang sering berinteraksi dengan warga sekitar, bahkan siapa yang tidak kenal beliau di kampung ini? Berjalan setengah membungkuk bersama teman tongkatnya, ciri khas kaos oblong dengan sarung adalah pemandangan sehari-hari yang lumrah dijumpai di kampung Peneleh.

Apa mungkin Mbah Ji malu dengan status keturunannya? Anak sulung yang dirumorkan meninggal pada saat pemberontakan PKI di Madiun, Cucu kesayangan yang ditangkap karena dituduh dekat dengan paham kiri?” Sesuap demi sesuap ia lanjutkan dengan nafsu yang sudah hilang. Dan selanjutnya adalah mengunjungi salah satu tempat di sekitaran pinggir kampung.

 

*

 

Aliran Sungai pada sore hari itu terlihat begitu tenang. Panji meluruskan kakinya dengan sedikit lega, nafas yang dalam turut ikut andil dalam keheningan yang tercipta tepat dipinggiran kali mas. Kali ini ia hanya membawa sebuah buku dan pulpen usai berkunjung dari kodam dan mampir sejenak untuk makan rujak.

Sungai ini mengingatkan akan masa kecilnya dengan cacing dan laron yang ia selalu korbankan sebagai umpan. Bambu sederhana berukuruan 1 meter sudah cukup membuat kakeknya turun langsung ke lapangan untuk menjemput di waktu Magrib.

Sejenak ia melihat buku milik ayah. Sekali lagi, tak ada keinginan sama sekali untuk melihat isi buku tersebut. Angin seperti menahan tangannya untuk membuka, tetapi angin mendorong jari jemari untuk mengambil sebuah pena dan mencurahkannya ke dalam kertas.

Lihat selengkapnya