Sisi Bangku

Dennis Aditya Amien
Chapter #4

Stasiun

Suara nyaring dari peluit kondektur disebar ke seluruh sudut Stasiun Gubeng. Dinding putih bergaya asitektur peninggalan Belanda masih terasa begitu kental, dilengkapi ornamen-ornamen jendela berukuran besar, serta lampu yang tergantung di setiap titik Stasiun.

Halaman depan stasiun dipenuhi dengan tukang becak yang menawarkan jasa mereka, diikuti pedagang makanan berkeranjang pikulan. Suara-suara pencari nafkah tersebut dapat didengar kala arus penumpang begitu ramai pada saat jam sibuk seperti pagi dan sore hari. Para penumpang bisa membeli tiket melalui loket berdinding kayu, lalu bebas berjalan melewati peron tanpa pemeriksaan yang ketat.

Deru lokomotif tua, diikuti suara peluit panjang dari kondektur menandakan bahwa kereta Jayabaya jurusan Surabaya-Jakarta akan segera berangkat. Beruntung bagi Panji yang sudah datang lebih cepat sekitar 1 Jam sebelum keberangkatan, sehingga ia bisa bergerak cepat mengamankan kursi duduk, ya walaupun kursinya tegak, tapi agaknya lebih mending daripada duduk di lantai gerbong.

Sebelum masuk, hawa panas khas gerbong sudah dapat ia bayangkan. Bahkan sebelum kaki ia letakkan ke dalam lantai gerbong, rasa ingin turun dari gerbong sudah muncul mendahului. Tetapi syukurnya hawa panas itu tidak akan bertahan lama, karena sebagian besar perjalanan akan dilalui semalaman selama 18 jam.

Kereta berjalan di malam hari bukan berarti kondisi akan menjadi nyaman. Jendela kereta yang tidak bisa tertutup rapat membuat angin dingin masuk menusuk-nusuk para penghuninya. Belum lagi ketika kereta melewati sawah dan hutan jati di Bojonegoro, maka masuk angin siap menjadi teman akrabnya pada keesokan hari.

Panji memutuskan untuk segera tidur ketika kereta sudah berangkat. Entah kenapa tidurnya kali ini terasa begitu nyaman dan lelap? Padahal kondisi gerbong dipenuhi berbagai macam huru hara, seperti suara ayam yang berkokok dengan nada setengah antusias, di tambah pedagang pecel, nasi bungkus, kacang, dan makanan lainnya yang terus menodong penumpang dengan dagangan mereka, satu lagi, suara dengkuran bapak-bapak tertidur dengan mulut separuh terbuka membentuk huruf "O". Semua kejadian tersebut berlalu cepat seperti mimpi siang bolong, atau mungkin karena ia tidak tidur semalaman dan lebih memilih untuk mencari ikan di Sungai Mas? Entahlah, sekarang ia terbangun setelah mencium aroma rokok yang muncul dari sebelahnya.

"Rokok, Mas?" Bapak disebelahnya menawarkan sebatang rokok sembari mengunyah kacang yang baru saja dibelinya.

"Nggak, Pak. terima kasih." Jawab Panji sembari berusaha melihat apa yang di tulis bapak itu.

"Asli mana, Mas?"

"Saya, Pak? Asli Jakarta, tapi saya sering berpindah-pindah."

"Oalah, memangnya ini mau ke mana?"

Lihat selengkapnya