Sisi Lain Cermin Tua

Nabilla Shafira
Chapter #2

2. Mimpi Yang Sama

Seharusnya gadis itu sudah berada dirumah sejak tadi, akan tetapi malah mampir ke restoran Hoka-Hoka Bento. Menghabiskan makanan sambil sesekali menghela napas panjang namun suara notif dan ponselnya berhasil mengalihkan perhatiannya setelah meneguk minuman hingga habis. Diusap layar ponsel dan seketika raut wajahnya berubah menjadi masam.

"Kupikir dari Pak Wanto, ternyata dari Ayah." Batin Naswa kecewa. Dimasukkan benda pipih itu ke dalam tas kemudian beranjak menuju konter untuk memesan lagi, akan tetapi bulu kuduk dibelakang lehernya terasa dingin membuat Naswa reflek mengusap lalu berpaling ke belakang. Mata cokelatnya tidak melihat siapapun, hanya ada orang-orang yang asyik mengobrol dimeja masing-masing. Setelah memesan dan kembali ke mejanya gadis itu menyantap makanannya guna menutupi kekecewaannya hingga seseorang menyapanya. Mata Naswa membulat sempurna melihat seorang pria jangkung berdiri didepan mejanya.

"P-Pak Raffan," seru Naswa tercekat. Pria yang disebut Naswa tadi tertawa kecil melihat reaksi gadis dihadapannya, "Boleh saya gabung disini." Ucap Pak Raffan. Naswa reflek mengangguk, tersenyum senang pria itu meletakkan tas kerjanya dibangku hadapan Naswa lalu pamit untuk memesan makanan sebentar. Sepeninggal Pak Raffan Naswa menelan makanan yang ada didalam mulutnya lalu menunggu pria itu kembali, tidak selang lama Pak Raffan datang membawa nampan lalu duduk dikursi seberang.

"Apa kau membawa gambar sampel baju hasil desainmu?" Tanya Pak Raffan. Ditengah perang batin Naswa masih sempat mengangguk kembali lalu mengambil tasnya dan mengaduk isinya mengambil Skercbook setelah itu menyodorkan buku itu kepada pria dihadapannya. Dengan sopan Pak Raffan memberi saran serta masukkan kepada Naswa ketika melihat hasil desain yang Naswa gambar, tidak lupa dia meninggalkan coretan yang menurutnya harus Naswa perbaiki setelah itu mengembalikan buku itu kepada Naswa. Gadis itu menerimanya dengan perasaan gembira kemudian mengangguk menerima saran juga masukkan dari Pak Raffan.

*****


Mata sopir taksi sesekali lirik ke kaca spion melihat Naswa duduk dibangku belakang sambil tersenyum tipis memandang jalanan dari balik jendela mobil. Ia tidak menyangka bakal bertemu sosok yang selama ini ia incar demi kariernya, bayangan dirinya menyaksikan hasil desain pakaiannya berlenggak-lenggok di panggung serta suara tepuk tangan diiringi decak kagum dari orang-orang membuatnya bersemangat dan tidak sabar sampai ke rumah. Akan tetapi raut wajahnya berubah masam saat melihat keadaan rumah, tidak ingin suasana hatinya memburuk ia memilih berada diluar lalu menghubungi tukang bangunan. Beruntung setelah menutup telepon ia melihat seorang pria tua menuntun sepeda dengan keranjang dibelakang yang didalamnya ada sapu lidi.

"Pak... Pak!" Panggil Naswa. Raut wajah pria tua itu seketika berubah menjadi cerah saat semula tampak lelah dan bergegas menghampiri Naswa.

"Ya!" Pria itu menghampiri setelah memarkirkan sepeda tuanya di depan pagar

Lihat selengkapnya