Sejak malam rekonsiliasi itu, kehidupan rumah tangga Pradipta berubah drastis. Pandji kembali menjadi sosok suami dambaan, menghujani Sekar dengan perhatian dan kasih sayang yang terkesan berlebihan. Dia selalu pulang kerja tepat waktu, membawakan Sekar seikat bunga mawar favoritnya. Pandji juga selalu bangun terlebih dahulu, membuatkan teh jahe hangat kemudian meletakkannya di nakas, bahkan sebelum Sekar membuka mata.
Setiap malam, meja makan mereka kembali dihiasi obrolan ringan dan tawa. Mereka saling mendengarkan cerita masing-masing dengan penuh minat. Bahkan, sesekali Pandji berinisiatif mengundang Rina untuk makan bersama. Rina yang awalnya kaget dan waspada melihat perubahan drastis kakak iparnya, perlahan mulai melepaskan curiganya setelah diyakinkan oleh senyum bahagia Sekar.
Sebelum tidur, rutinitas mereka kembali seperti masa madu. Pandji akan memijat lembut kaki istrinya sambil menonton film, dilanjutkan dengan keintiman yang selalu diakhiri dengan bisikan kata cinta di dalam pelukan.
Sekar menikmati setiap detiknya, membiarkan dirinya tenggelam dan percaya sepenuhnya pada pertobatan Pandji. Namun bagi Pandji, setiap keintiman hanyalah pertunjukan. Dia adalah aktor utama, yang sedang mempertaruhkan nyawanya.
Di balik setiap senyuman tulusnya, tersembunyi jeritan kepanikan atas tenggat waktu yang merayap mendekat. Di balik setiap sentuhan lembut, terdapat hasrat dingin dan brutal untuk segera menanamkan benih.
Pandji bagaikan penjudi putus asa yang mempertaruhkan sisa koin terakhirnya pada roda rolet yang berputar, menahan napas hingga paru-parunya terbakar, menantikan di mana bola kecil itu akan berhenti.
Hari demi hari berlalu, dan tibalah mereka pada penghujung bulan kedua. Hanya tersisa sepertiga dari waktu yang diberikan oleh Sang Ratu.
Ketegangan Pandji di minggu terakhir bulan kedua nyaris membuatnya gila. Setiap kali Sekar beranjak ke kamar mandi, ritme jantung Pandji berantakan. Dia menghitung hari demi hari yang berlalu, bagaikan terpidana yang menghitung mundur hari eksekusinya.
Pagi itu, cuaca di luar mendung. Pandji duduk di tepi ranjang, tangannya bertaut erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menunggu Sekar keluar dari kamar mandi. Sekar telah menghabiskan begitu banyak waktu di dalam.
Terdengar bunyi klik dari gagang pintu, kemudian Sekar melangkah keluar.
Wajah wanita itu tertunduk. Tangannya memegang kotak kosong pembalut dan wajahnya memancarkan raut penyesalan yang mendalam.
"Mas..." suara Sekar bergetar, menahan isak tangisnya, "Aku datang mens."
Dunia Pandji berhenti berputar. Udara di sekitarnya mendadak hilang.
“Maafkan aku, Mas,” air mata Sekar akhirnya tumpah. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Di dalam kepalanya, Pandji menjerit. Jeritan panjang yang melengking, dan penuh teror. Dia ingin meraih vas bunga di nakas dan melemparkannya ke Sekar. Dia ingin mencengkeram bahu wanita itu dan mengguncangnya karena dia terus menerus mengkhianatinya. Pandji murka dengan sandiwara sempurna yang dimainkan istrinya. Seorang wanita yang meminum obat kontrasepsi setiap hari, tidak mungkin mengeluarkan air mata tulus ketika gagal hamil.
Seharusnya Pandji yang menangis, karena waktunya hampir habis! Batas waktu yang kurang dari satu bulan, tidak akan cukup baginya.