“Aku butuh uangnya sekarang.”
Nada suara itu datar, tapi tatapannya menekan. Seolah Arga tidak punya pilihan selain mengangguk.
Arga berdiri di depan meja kasir minimarket tempatnya bekerja. Jam dinding menunjukkan pukul 22.47. Toko hampir tutup. Hanya ada dia, pria itu, dan dengung lampu neon yang menggantung di atas kepala.
Arga menghela napas.
“Gaji saya belum turun, Pak.”
Alis pria itu terangkat sedikit. Bukan kaget. Lebih seperti mengejek.
“Kamu selalu punya alasan,” katanya. “Padahal tinggal minta pinjam ke temanmu.”
Jika saja Arga punya teman yang bisa dipinjam uangnya, dia tidak akan berdiri di sana dengan seragam lusuh dan kaki pegal setelah seharian bekerja.
“Saya usahakan besok,” jawab Arga akhirnya.
Kalimat itu sudah terlalu akrab baginya.
Dia usahakan.
Dia coba.
Dia nanti.
Dan anehnya, dunia selalu puas dengan jawaban setengah-setengah itu.
Pria itu mendengus pelan, lalu pergi tanpa basa-basi. Pintu kaca terbuka, lonceng kecil berdenting, dan malam kembali sunyi.
Arga menatap pantulan dirinya di kaca freezer minuman.
Rambut sedikit berantakan. Mata lelah. Bahu membungkuk, seperti terbiasa menahan sesuatu yang terlalu berat.
Pria biasa. Terlalu biasa.
Namanya Arga. Dua puluh dua tahun. Tinggal di kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Tidak punya tabungan. Tidak punya koneksi. Tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan dan entah sejak kapan, dia juga tidak punya keberanian untuk marah.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun tanpa peringatan. Kota berubah jadi lautan lampu yang memantul di aspal basah. Arga berjalan menyusuri trotoar dengan jaket tipis yang jelas tidak cukup menahan dingin.
Motor dan mobil melaju tanpa peduli. Seperti hidupnya terus bergerak, tapi tidak pernah menunggunya.
Arga berhenti di bawah atap halte kosong. Mengeluarkan ponsel. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Dia mengunci layar lagi, harusnya dia sudah terbiasa. Dia memang selalu sendirian. Bukan karena tidak ingin dekat dengan siapa pun, tapi karena setiap kali mencoba, dia selalu kalah langkah.
Di kampus dulu, Arga bukan siapa-siapa. Di pekerjaan, dia hanya pengganti yang mudah dilupakan. Dalam hidup dia figuran. “Apa memang segini saja hidup gue?” gumamnya pelan, menatap genangan air di depan kaki.
Tidak ada jawaban.
Arga baru sadar ada orang lain ketika suara langkah berhenti di belakangnya.
“Mas?”
Dia menoleh.
Seorang perempuan berdiri dua langkah darinya. Jaketnya basah, rambutnya diikat asal, dan raut wajahnya menampilkan kelelahan yang sama. Di tangannya ada map plastik yang mulai kusut.
“Maaf,” katanya. “Halte ini masih dipakai?”
Arga menggeleng. “Nggak.”
Perempuan itu tersenyum tipis dan berdiri di ujung halte, menjaga jarak. Tidak canggung. Tidak sok akrab. Hanya normal.
Hujan makin deras. Mereka sama-sama diam, menunggu.
“Pulang kerja?” tanya perempuan itu tiba-tiba.
“Iya,” jawab Arga.
“Lembur?”
Arga mengangguk. “Seperti biasa.”
Perempuan itu tersenyum lebih lama. “Aku juga.”
Tidak ada percakapan panjang setelahnya. Tapi anehnya, keheningan kali ini tidak terasa menekan. Untuk sesaat, Arga lupa bahwa dia lelah. Bahwa dia kalah. Bahwa dia selalu mengalah. Hingga petir menyambar. Cahaya putih membelah langit, disusul suara menggelegar yang membuat dada Arga bergetar. Perempuan itu tersentak, mapnya terlepas dan jatuh ke genangan air.
Arga refleks melangkah maju.
“H-hati – hati......”
Kata-katanya terpotong. Dadanya tiba-tiba sesak. Pendengarannya berdengung. Lampu kota seperti menjauh. Dia meraih tiang halte agar tidak jatuh. Lalu, di tengah kekacauan itu, sesuatu muncul.
Bukan suara. Bukan bayangan. Melainkan kesadaran yang bukan miliknya.
Seperti ada yang mengamatinya.
Menimbang.
Memilih.
Arga menelan ludah. Jantungnya berdebar lebih kencang.