Gondok? Iyalah! Tapi bukan karena garem. Itu gondokan namanya. Yang ini lain. Udah susah payah ngerjain semuanya sekaligus. Jam tidur berantakan dikejar deadline. Azan subuh yang jadi pertanda orang buka mata aja malah jadi semacam kode untuk Raka harus tidur biar gak kena tipes. Jam makannya juga ikut amburadul. Tapi hasilnya apa?
“BANGSAT!!” Katanya kasar.
Banyak banget fikiran terbesit. Berlalu lalang gak tentu arah. Raka bingung mau cerita sama siapa. Temen? Ah sialan. Rasanya dia udah gak percaya apa-apa yang sebenarnya sulit dibuktiin. Perkara orang-orang yang katanya rela ngebantu, sampai kebahagiaan yang konon didapat oleh kebersamaan. Sama-sama berjuang, sama-sama lapar, sama-sama goblok dan sama-sama bertempur melawan mimpi dan cita-cita. Dan Raka mulai muak sama sesuatu yang berjudul pertemanan tersebut.
Emang sih banyak yang bilang, alah sok gak butuh teman. Emang kalau mati itu keranda bisa digotong sendiri? Siapa lagi yang mau gotong kalau bukan teman?
Raka najamin alis. Mati yaudah mati aja. Perkara digotong atau gak itu belakangan. Udah sampai segitu parah muak yang dia rasain.
Suara berat dari langkah kaki Raka kedengeran. Berjalan tegas menuju pintu kayu di tempat yang selama ini dipakainya sebagai markas Sobat Nyungsep bersama yang lain.
“BUKA PINTUNYA!” Raka tau Bimo dan teman-temannya ada didalam.
Gak nunggu lama, pintu akhirnya kebuka. Menampilkan beberapa teman-temannya yang lagi sibuk dengan laptop diatas meja. Tentu disitu juga ada Bimo, pria yang saat itu berbalut kemeja hitam lagi asik duduk tenang di singgasananya.
“Wuihh my bro. Tumben datang jam sgini? Ada ide konten apalagi kita?” Sapa ramah Bimo ketika Raka berdiri gak jauh dari tempat duduknya.
Udara tiba-tiba hangat dan Raka Cuma berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Lo gausah sok ramah. Gue datang kesini cuma mau nanya. Lo nuduh gue apa? Nyurangin Youtube trus nyolong Hp? Iya? BILANG SENDIRI NIH DIDEPAN MUKA GUE!” Raka natap Bimo dengan tatapan penuh kebencian.
Suasana langsung hening. Suara jutrak-jutrek dari keyboard laptop yang dipakai salah satu orang didalam ruangan akhirnya berhenti. Wajah Bimo berubah kecut.
“EMANGNYA ENGGAK?” Bimo bangkit dari singgasananya. Ngelanjutin senyum sinis dan berniat melangkah mendekati Raka.
“Lo mendekat, gue bikin lo gak bisa bicara lagi selamanya!” Ancam Raka.