Tatapannya tajam meski sesekali masih nampak sayu dan lelah. Setiap menit berjalannya waktu, dia habiskan beriringan dengan putaran roda sepeda motornya yang menghempas jalan-jalan ibukota.
Setiap harinya sekarang selalu terasa lebih panjang. Terlebih ketika seantero kampung heboh dengan berita bahwa dirinya lagi-lagi masuk kantor polisi. Gak tau siapa yang cerita. Masa iya ibunya sendiri. Tapi Mau dikonfirmasi kaya apa juga rasanya percuma. Tetangga taunya Raka udah nipu orang-orang di daerah lain. Menyedihkan memang.
Kepastian tentang agar hidupnya bisa lebih baik setiap kali dia bangun pagi langsung kandas. Seakan impian dan harapannya terkubur dalam tanah yang begitu dalam, tentu ditemani rasa sakit yang begitu perih.
Spedometer di motornya udah berada pada angka 70 Km/jam. Dia melesat dan gak peduli lagi udah berapa banyak lampu merah yang dia langgar. Hidup segan tapi gak mau mati. Mungkin itu yang Raka rasain.
Dia cuma ingin semuanya berubah. Dia muak ngeliat gimana dunianya satu persatu jatuh jadi jutaan keping puzzle di kakinya yang bikin dia gak punya apapun dan siapapun lagi saat ini.
Pernah ada tetangga ngasih banyak pertanyaan yang dia sendiri gak pernah bisa nemuin jawabannya.
“Kenapa sih lo tega nipu temen-temen lo? Apa untungnya sih nipu? Gimana rasanya jadi penipu? Raka cuma diam dengerin banyak pertanyaan ini. Tapi...
“HEH BANGSAT. Siapa yang nipu?! Lo coba deh jalanin kehidupan gue?! Ngabisin satu menit aja dalam posisi gue!
Pernah gak lo bangun pagi dan berharap hari itu adalah pagi terakhir lo! Pernah gak lo berdoa dan berharap, meski lo sendiri gak yakin apa iya Tuhan sudi kasih keinginan lo?! Pernah gak?! Gue rasa lo akan langsung mati berdiri kalau ngerasain di posisi gue.
PRAKKKKK.
Dia berhenti pada sebuah lampu merah dan meninju kaca spedometernya dengan sangat keras. Suara pecahan kaca bikin semua yang ada disana menoleh.
“KENAPA LO LIAT-LIAT HAHH?!” Hardiknya. Semua orang gak bergeming.
Hatinya nangis lagi. Dia sadar kalau dia udah menjelma menjadi pribadi yang lain. Pribadi yang keras ditengah-tengah keluarga lembut yang membesarkannya.
Trafic light sudah hijau, dia kembali melajukan sepeda motornya. Sesekali terbesit dalam hati dan kepalanya untuk pergi saja dari sesuatu yang banyak dibilang orang sebagai dunia nyata.
Iya. BUNUH DIRI.
Ada dua sisi yang seakan berteriak di telinganya. Sisi satu mengatakan lakukan aja. Sedang satu yang lain berusaha mencegahnya.
“Lakuin cepet bego. Semua masalah lo akan selesai. Dan lo akan tenang”. Sisi satu mulai manas-manasin.
“Jangan. Justru masalahnya akan makin berat. Selain dosa, lo harusnya pikirin gimana nasib ibu lo kalau lo melakukan itu”. Sisi yang lain menghalangi.
“Ah salah, Justru kalau lo lakuin, lo akan mengurangi beban ibu lo. Sayang kan lo sama ibu lo? Makanya kurangi beban dia. Loncat deh dari lantai dua belas sekarang. Buruan mumpung udaranya lagi sejuk”. Sisi jahat masih mempengaruhi.
“Lah, loncat? Iya kalau mati. Kalau enggak? Udah nganggur, malah cacat permanen. Bisa gantian ibu lo yang bunuh diri nantinya”. Sisi baik tak kalah cepat menghalangi.
“Yaudah-yaudah kalau gantung diri aja gimana?”. Sisi jahat bernegosiasi.
DIAAAM!!!!
Raka ngejambak rambutnya sendiri. Setetes iman yang masih tersisa dalam relung hatinya paling dalam, ternyata bisa diandalkan sebagai perlindungan terakhirnya.
Dalam tatapan nanar, Raka melihat di arah depan ada truk pasir yang lagi ugal-ugalan.