SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #10

Kembali Bergairah

Kegiatan Raka seharian ini cuma duduk-duduk aja nemenin Ghisa di taman kampusnya. Cerita-cerita. Main ngeluh-ngeluhan. Ghisa sama kegiatan kampusnya dan Raka dengan betapa menderita hidupnya. Ghisa selalu ketawa kalau diceritain masa lalu Raka yang penuh dengan kenistaan.

“Jadi kamu pernah masuk kantor polisi karena banting laptop ke kepala orang?” Ghisa nanya serius? Entah apa yang dipikirin Ghisa saat itu. Tapi bagi Raka, dia cuma mau jujur. Tanpa ada aib yang sedikitpun dia sembunyiin.

“Ho’oh”.

“Kenapa laptop? Emang gak ada benda tajam disitu? Seharusnya pake benda tajam trus langsung tusuk aja ubun-ubunnya biar kesan creepy nya dapet”. Raka lagi-lagi ngelongo. Agak lain nih cewek. Gumamnya.

Tapi meski begitu, selalu ceria aja kalau udah dekat-dekat sama Ghisa. Meski beban hidup Raka parah, tapi gak tau kenapa ngakak mereka jadi pertanda bahwa hidup itu gak pernah sekejam kelihatannya.

Ghisa ini umurnya dua puluh dua tahun. Sedang Raka udah nginjak tiga puluh lima tahun. Beda usia mereka nyentuh angka tiga belas tahun.

Yah hampir-hampir mirip sama kisah Nabi Muhammad dan Khadijah lah ya. Masih oke kalo buat ngejalin sebuah hubungan. Itupun kalau Ghisanya sudi.

Walaupun sebenarnya, di umur tiga puluh lima ini, berarti Raka udah ditengah perjalanan menuju mati. Udah lewat Ashar menuju Maghrib. Tapi kelihatannya tetap gak ada pencapaian yang kesisa di umurnya sebanyak ini.

Harta gak ada, wibawa udah lenyap. Mau mulai lagi kan pasti butuh proses. Dan kerja meski hanya sebagai tukang ojek untuk perempuan bernama Ghisa, semacam titik awal untuk Raka bisa mulai lagi kehidupannya dari nol.

“Trus itu beneran? Pas pertama kita ketemu, niat kamu itu mau nabrakin diri ke truk pasir yang ngelintas dijalan raya?” Ghisa adalah perempuan yang terlalu banyak pertanyaan.

“Hehe.. iya”. Raka garuk kepala.

“Udah sedepresi itu digampar takdir ya?”. Dia ketawa yang kelihatannya lebih kearah mencemooh sih sebenarnya.

“Yaaah kalau aku ceritain semuanya mah gak akan masuk akal. Kamu kan gak pernah ada di dunia yang kaya aku”.

“Kata siapa? Aku pernah miskin kok”. Jawabnya cepat.

“Hahh? Serius?”. Raka penasaran.

“Iya, waktu itu aku pernah minta sama mama dibeliin apartemen. Harganya delapan miliar. Tapi kata mama dia lagi miskin.

See? Jadi kamu jangan ngerasa depresi sendirian. Gak cuma kamu yang miskin. Mamaku juga pernah”. Sahut Ghisa sambil asik ngebuka kulit kacang yang ada dihadapannya.

Raka sedih dengerin cerita Ghisa yang ini. Beli apartemen katanya? Delapan miliar? Dan dia bilang masih miskin?

“Apa kabar sama gue? Yang kepaksa beli pembalut karena mama gak punya duit buat benerin kamar mandi!”. Lagi-lagi Raka ingin bunuh diri.

“Oiya, kamu gak punya pacar Sha?” Gantian Raka yang melontarkan pertanyaan.

“Aku masih takut jalanin hubungan”

“Loh kenapa?”

“Ngeri dibunuh”.

Lihat selengkapnya