SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #12

Memulai Sebuah Kebohongan

“Akhir-akhir ini mama perhatiin kamu sering berangkat pagi Ka”.

“Iya ma. Raka sekarang udah diterima dong di salah satu perusahaan besar di Jakarta Pusat. Yaaah emang sih Cuma kurir berkas-berkas doang. Tapi gajinya lumayan besar ma”.

“Tuh kan. Yang begini kenapa harus mama tanya duluan. Kok gak info dari kemarin sih? Mama tuh selalu nanya dalam hati kok tumben kamu sering berangkat pagi”.

“Sengaja ma. Mau ngasih surprise dong. Bulan depan Raka bisa bayar hutang-hutang mama. Terus biar Raka yang urus bayar listrik mama. Supaya mama gak capek-capek lagi begadang bikin kue pesanan orang”.

“Mama itu bikin kue bukan karena mau memaksakan begadang Ka. Tapi emang mama seneng aktifitas. Mama kalau diem aja badan mama malah sakit-sakit. Tapi mama seneng banget denger kabar kamu keterima kerja diperusahaan besar. Mama mau ambil wudhu dulu ah”.

“Loh ma? Mau sholat apa jam delapan pagi ini? Dhuha?”.

“Iya dhuha sekalian mama mau bersyukur dan berterima kasih sama Tuhan karena Tuhan memberikan pekerjaan yang bagus sama kamu”.

Raka merhatiin senyuman terbaik yang keluar dari wajah ibunya. Sebuah senyuman bahagia dari seseorang yang sangat berarti di dunia ini. Senyuman ibunya cukup menenangkan. Meski senyuman itu adalah hasil dari sebuah kebohongan yang sengaja dia perbuat.

“Maafin Raka ya ma”. Gumamnya dalam hati.

“Raka jalan aja deh ma”. Ucapnya ketika ibunya selesai mengambil wudhu.

“Looh, kamu gak sarapan dulu?”.

“Nanti aja ditempat kerja ma. Udah terlambat”. Jawabnya sambil jalan menuju kedepan rumah.

Diperjalanan, hatinya menangis lagi. Sisa kewarasannya memberontak sejadi-jadinya.

“Woy kenapa lo harus bohong?! Apa sih yang lo harapin dari sebuah kebohongan?! Senyuman bahagia ibu lo doang?! Iya sekarang bisa. Tapi apa lo gak mikir gimana kalau suatu saat nanti ibu lo tau yang sebenarnya?! Gak mikir sampe kesitu?!

Gaji besar lah! Bayar hutang-hutang lah! Lo sadar gak sih? Janji manis dan kebahagiaan yang lo mau kasih sekarang sama ibu lo itu gak lebih dari sekedar ember kosong doang yang gak ada isinya sama sekali. Cuma bikin budek kalau digetok tengah malem.

Marah, sakit, pedih, perih, kecewa akhirnya masuk kembali ke relung jiwanya. Raka gak niat apa-apa kok. Apalagi sampai tega dan jahat membohongi ibunya. Dia tuh cuma ingin terbebas dari sebuah anggapan selama ini kalau dia hanyalah seoonggok manusia yang ga bisa diandalkan dalam keluarganya.

Dia Cuma ingin melihat ibunya bahagia.

“Tuhan?!, coba kasih tau, apa itu salah?!”.

Sisa kewarasannya mengalah ketika dia sampai didepan rumah Ghisa. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepas topeng muram nya, untuk kemudian berganti memakai topeng yang mempertontonkan sebuah senyuman yang lepas tanpa beban. Meski diatas segalanya, dia tau, bahwa semua ini hanya akan membentuknya jadi orang lain.

“Heyy Rakaaa. Lama ya nunggunya?”. Sapa Ghisa ketika dia keluar dari gerbang rumahnya.

“Baru aja sampai nih. Yuk kita jalan. Jangan sampai telat kuliahnya”.

“Nah hayoooo udah mulai perhatian ya sama kuliahku. Cieee perhatian”. Ledeknya sambil menaiki motor Raka.

Lihat selengkapnya