Tangan ibunya bergetar menerima sejumlah uang yang cukup banyak dari Raka.
“Ka, sebanyak ini gaji kamu? Ini lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya”. Ucap sang ibu pelan.
“Iya ma. Itu udah ditambah dengan kerajinan dan uang makan”. Sahut Raka sambil tersenyum ke ibunya.
“Ibu harus berterima kasih lagi sama Tuhan atas segala pemberian Nya kepada keluarga ini”. Sang ibu bangkit untuk mengambil air wudhu.
Ada rasa bahagia yang Raka rasakan dalam posisinya sekarang. Ini impiannya. Menjalani sebuah kehidupan yang dia pikir akan lebih baik jika bisa seperti ini terus.
Skenarionya sudah matang. Alur ceritanya pun dibuat sebahagia dan se-membanggakan mungkin. Ibunya digiring sedemikian rupa pada sandiwara kotor yang terpaksa ibunya nikmati dengan mata telanjang.
Dia hanya ingin membahagiakan ibunya. Bukankah Tuhan menyuruh kita membahagiakan ibu kita? Setidaknya itu yang dia percaya.
“Kamu mau kemana? Bukannya hari ini kamu libur?”. Tanya sang ibu ketika melihatnya memasang sepatu.
“Ini ma. Hmm anu. Ada urusan diluar sebentar”. Jawab Raka penuh keraguan.
“Yaudah kamu hati-hati ya. Jaga kesehatan supaya pekerjaan kamu lancar terus”. Balas sang ibu sambil memperhatikan buah hatinya meninggalkan rumah.
Gelombang besar yang menerpa Raka beberapa tahun kebelakang membuatnya terpaksa melakukan ini. Ambisi, prinsip serta kegilaan yang selama ini habis menggerogoti hatinya dari dalam pun seakan menjadi alasan untuk tetap melanjutkan semuanya.
Dia cuma gak sanggup untuk menghentikan sebuah senyuman bahagia yang beberapa bulan ini dinikmati ibunya. Dan gak ada siapapun yang boleh jadi penghalang rencananya tersebut.
Ya, suka gak suka, Raka emang gak boleh berhenti meranin sebuah tokoh yang dia lakoni ini bersama Ghisa.
Raka menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sesekali dia menyeruput kopi yang sebelumnya telah dia pesan. Dia menyibukkan diri dengan ponsel ditangan. Membuka beberapa situs, lalu dengan nikmat menjelajahinya.
Headset berwarna hitam dia pasang ke telinga sebelah kirinya. Mendengarkan musik hitam dari grup musik kesukaannya. Matanya berkeliling. Melihat kemana aja yang dia mau. Sama seperti pikirannya yang melayang jauh diatas permukaan titik waras.
“Iya, kayaknya gue emang harus lakuin itu”. Raka bergumam pada dirinya sendiri.