Asap rokok berhembus. Menyatu bersama desiran angin kencang disertai hujan lebat pagi itu. Raka sudah rapi dengan setelan kemeja hitam yang dibelinya dengan harga gak masuk akal. Terlihat juga seseorang baru saja pamit dan keluar dari rumahnya.
“Ibu lihat dari dalam kamu memberikan uang ke teman kamu nak?”. Ucap sang ibu ramah.
“Iya ma dia pinjam 5 juta. Katanya untuk biaya berobat anaknya sama bayar kontrakan. Soalnya dia belum gajian”. Raka jawab spontan.
Ibunya tau. Ini bukan Raka anaknya yang dia kenal selama ini. Penampilan dan auranya jelas berbeda. Tutur kata dan tatapan matanya juga sudah gak sama. Tapi sang ibu milih untuk gak berkata apapun.
Raka telah menjelma menjadi seorang pahlawan dan bajingan di waktu yang bersamaan. Dia jadi pahlawan karena ini bukan pertama kalinya dia membantu orang lain. Pernah berada dalam posisi nadir, membuat hatinya selalu terketuk untuk membantu siapapun yang dilihatnya butuh bantuan.
Sayangnya di waktu yang sama, dia juga menjelma menjadi seorang bajingan. Membantu orang lain menggunakan sesuatu yang bukan miliknya sendiri.
Iya, manipulatif. Pemilik otak drama yang licik. Pria kelam dengan dunia hitam putih yang berhasil menipu daya seorang perempuan kaya untuk diperas semua kekayaannya.
Helaan nafas berat terdengar. Raka meraih HP dari saku celananya dan melihat galeri foto Ghisa yang banyak dia simpan.
Perempuan itu, pemilik tatapan teduh yang berhasil memberikan warna pada dunia hitam putih milik Raka.
Mereka gak pacaran, tapi bagi Raka, senyuman perempuan itu sangat memikat dan menjadi candu terbaik kedua dibanding apapun di dunia ini. Tentu uang berada di posisi paling atas.
GHISA SHELITA FARICHARA
Mahasiswi kedokteran semester akhir di universitas mahal di Jakarta. Punya cita-cita menjadi Dokter ahli bedah syaraf. Pencapaian terbesarnya saat ini, katanya hanya bisa meniru tulisan jelek seorang dokter sama kata sarap yang menempel dikepalanya.
Raka cuma bisa senyum-senyum dengerin ucapan perempuan lugu tersebut.
Terlahir di langit gak bikin Ghisa lupa sama bumi. Prinsipnya keren. SLOW BUT SURE. Pokoknya semua harus dijalani dengan santai. Hari ini makan pizza, besoknya dia mau aja disuruh makan pecel lele. Hari ini nonton film dan malas-malasan, besoknya dia pasti gentayangan dikampus. Ngerjain tugas kampus atau sekedar ngejahilin tukang bubur ayam di kantin kampusnya. Begitulah Ghisa dengan segala kesibukannya.
Perempuan ini juga mengisi hidupnya dengan banyak mimpi. Dia ingin jadi apapun. Dia ingin mendapatkan apapun. Bahkan dalam salah satu bukunya tertulis banyak mimpi di banyak lembaran yang tergores oleh tulisan tangannya sendiri.
Ghisa gak mengenal kata gagal. Yang dia tau, jika hari ini gak berhasil, maka dia akan coba lagi keesokan harinya. Gak berhasil lagi, ya dia harus coba lagi. Begitu seterusnya. Pokoknya sampai berhasil. Sampai dia ngerasa benar-benar memenangkan apa yang jadi impiannya.
“Susah banget nyari duit ya Sha”. Ucap Raka di awal pertemuan mereka dulu sambil menghela nafas dan menyapu keringat di keningnya.
“Apa sih syarat jadi orang kaya?” Sambung Raka lagi.
“Ya punya duit”. Balas Gisha santai.
“Nah itu. Supaya punya duit gimana caranya? Dulu aku sempat kepikiran mau ngepet tau Sha. Tapi aku sama dukunnya gak pernah sependapat buat mutusin siapa yang jadi babi dan siapa yang jaga lilin.
Sempat nego sih sama tuh dukun pakai sistem bagi hasil. Cak dua. Sama rata sama rasa. Tapi dengan syarat dia yang harus jadi babi. Eh dia malah gak mau. Takut disembelih warga katanya”.
Ghisa melongo dengerin cerita Raka yang ini.
“Terus? Kamu yang akhirnya jadi babi?” Gadis lugu ini akhirnya penasaran.
“GAK LAH! Cukup hidup yang kaya babi. Muka mah jangan”.
“Tapi aku lihat HP kamu ini mahal lho. Harganya diatas 8 jutaan Ka”. Raka langsung melihat Hp digenggaman tangannya yang ditunjuk Ghisa.
“Ooh ini hadiah Sha”.
“Hadiah?”
“Iya, lomba lari”.
“Lomba lari? Sama siapa?”.
“Sama Warga”. Raka jawab enteng.