SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #15

Bertarung Melawan Iman

“Btw kok kamu tumben datang kerumahku? Bukannya semalam udah ku wa kalau hari ini aku libur kuliah.”. Tanya Ghisa sambil mengaduk teh hangat ketika mereka duduk di ruang makan.

“Tumben, emang kampus libur kenapa?”. Tanya Raka penasaran.

“Lebih tepatnya meliburkan diri sih. Capek tau habis dari bali”.

“Yeee aku kan bilang sama orang rumah kalau aku kerja. Masa tiba-tiba di hari kerja aku gak berangkat?”. Jawab Raka sambil ketawa.

“Jadi itu beneran? Kamu bilangnya setiap hari kerja? Terus bilang kerja apa?”. Ghisa penasaran.

“Jadi kurir pengantar berkas diperusahan besar”. Raka melanjutkan ketawanya. Setidaknya dalam diri Raka masih ada kejujuran yang dia perlihatkan meski hanya ke sosok perempuan bernama Ghisa.

“Oooh jadi menurut pandangan mata kamu, sosok cantik kaya aku gini lebih mirip berkas yang diantar-antar ya? Kotak-kotak gitu?”. Mereka ketawa lepas sambil menikmati suguhan yang di berikan Ghisa.

Raka terus memperhatikan wajah perempuan cantik dihadapannya yang lagi sibuk ngunyah buah-buahan diatas meja. Dia gak tau harus ngucapin apa. Berterimakasih yang bagaimana atas segala yang Ghisa berikan kepada Raka dan keluarganya.

Tapi gimana dia cukup hanya berterima kasih saat ada orang yang begitu membantu kehidupannya dan jadi faktor utama yang membuat ibunya bisa tersenyum bahagia saat ini. Seorang perempuan yang hanya ada di siang hari dan berhasil membuat Raka gak ingin lama-lama dengan malam hari dimana dia harus kembali menjadi sosok asli di kehidupan nyatanya.

“Oh iya sha, aku boleh gak sih..”.

“Eh kamu tau gak sih beberapa bulan ini mantanku yang disana itu asal papasan samaku dia selalu balik arah. Bahkan kalau udah ketemu nih, dia selalu buang muka gitu. Kenapa ya?”. Ghisa memotong pembicarannya.

“Serius?”. Tanya Raka.

“Beneran! Beberapa kali aku perhatiin, dia itu kaya takut ketemu samaku. Ada apa ya?”. Ghisa mengernyitkan dahi.

“Mungkin Tuhan udah nyadarin dia dan bikin dia hijrah”. Jawab Raka santai.

“Haha hijrah kemana. Itu buktinya masih disitu”.

“Hijrah yang dimaksud itu bukan pindah Tempat onengggg”.

“Tuuuuh kan ngatain aku oneng. Biarin aku laporin mama nanti malam”.

“Jangan! Nanti aku dikatain jijik sama mama, kaya kata mantan kamu itu. Haha. Oh iya ngomong-ngomong mama kok tiap siang gak ada? Pengangguran?” Tanya Raka.

“Kalau pengangguran, siang-siang BERARTI ADA”. Jawab Ghisa melotot.

“Santai-santai Cuma bercanda”. Raka ketawa liat respon Ghisa.

“Mama itu selalu pulang jam 10 malam. Dia itu kan kepala salah satu Bank luar negeri di Jakarta. Jadi ya itu, kesibukannya bikin dia menelantarkan satu-satunya anak cantik di keluarga ini. Itu foto mama”.

Ghisa menunjuk salah satu bingkai yang terpasang di dinding gak jauh dari tempat mereka ngbrol.

“Ajigile. Serem juga ya”. Celetuk Raka pas ngeliat ke arah foto tersebut.

“Maksudnya apa dengan kata serem?”. Ghisa berdiri sambil bertolak pinggang dan cemberut ke arah Raka.

“Eh enggak anu. Hmm. Cantik maksudnya persis kaya kecantikan anaknya”. Raka salah tingkah.

“Haha got you! Mama emang gitu. Serem. Klenik juga. Kalau kata papa, masih hidup aja serem apalagi udah jadi arwah, kaya gimana itu nantinya?”. Raka gak berani ketawa dan biarin Ghisa ketawa sendiri.

“Nah kalau papa kerja juga?”. Tanya Raka lagi.

Ghisa terdiam beberapa saat.

“Papa udah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan motor gede. Itu yang bikin mama larang aku punya motor”.

“Maaf. Aku gak tau”. Ucap Raka pelan.

“Udh gpp. Lebay ah. That is life. Apa yang kita punya suatu saat akan diambil Tuhan kan?”.

“Kaya lagi ngobrol sama santriwati ya”. Ledek Raka.

Lihat selengkapnya