Hidup Raka memang baik-baik saja sekarang. Jauh lebih super baik malah. Dia seorang yang cukup mandiri sekarang, punya penghasilan sendiri, mulai perawatan, pintar, pokoknya masih banyak lagi nilai plus lainnya.
Mana ada yang menyangka kalau beberapa tahun lalu, dia pernah jadi beban keluarga. Dia pernah melawan gunjingan tetangga. Kucel, jelek, dekil, susah lagi. Tapi kali ini, situasinya tampak berbeda.
“Ka ini beneran kamar kamu?”. Ghisa mematung pas masuk ke tempat Raka.
Bekas semalam berkumpul bersama teman-temannya membuat seisi kamar seperti bangkai kapal Titanic. Yah bisa dimaklumi, yang namanya teman pasti gak ada akhlak kalau lagi bertamu. Apalagi cowok. Ya yang kaya begini ini hasilnya.
“Hehe selamat datang di apartemenku”. Sambut Raka hangat.
“Berantakan banget sih!” Ghisa langsung merapikan selimut yang tergeletak dilantai lalu melipatnya.
Ralat. Bukan apartemen Raka. Tapi milik Ghisa sebenarnya. Karena Raka belinya pakai uang Ghisa. Dan Ghisa gak pernah menyadari itu semua.
“Kamu nyaman tinggal disini?”. Tanya Ghisa masih merapikan sampah berserakan.
“Yah dinyaman-nyamanin aja lah. Namanya juga bujang. Tinggal sendirian juga”.
“Kamu ih aneh. Dapat warisan malah beli apartemen. Kenapa gak rumah aja?”.
Sama ibunya, Raka ngaku beli apartemen ini dari hasil pendapatan kerja. Kalau sama Ghisa, Raka ngaku dapat warisan dari orang tua sebelah rumahnya yang beberapa waktu lalu tiba-tiba meninggal.
“Aneh juga ya, kenapa jadi kamu yang dapat warisan? Emang anak-anaknya pada kemana?” Tanya Ghisa sambil masih beres-beres.
“Dia sebatang kara Sha. Dan mungkin orang yang terakhir kali dia liat pas Sakratul Maut itu aku, jadinya ngasih warisannya ke aku deh”. Jawab Raka simple.
“Orang tua kaya gitu masih ada gak sih? Pengen sampingan rumah rasanya”. Mereka berdua akhirnya ketawa.
“Lagian dulu waktu miskin gak pernah kepikiran beli rumah. Pas dapat warisan eh masih gak kepikiran juga. Yaudah beli apartemen aja deh”. Jawab Raka asal sambil membuka toples cemilan di depan TV.
“Bisa gak sih kalau orang lagi beres-beres itu dibantuin bukan malah nyemil”. Ghisa komplain.
“Tadi pas datang kaya bidadari kenapa pas masuk kaya malaikat maut?”. Gumam Raka dalam hati sambil menuruti perintah Ghisa.
“Ini seprey gak diganti berapa lama? Jorok banget”. Ghisa masih aja cerewet.
“Aku biasanya pake jasa loundry dibawah. Tapi kebetulan lima hari ini orangnya pulang kampung. Yaudah aku tunggu sampai dia balik”.
“Yaampun. Itu kan ada mesin cuci”. Ghisa menyeka wajahnya. Raka tau dia pasti kesal melihat amburadulnya apartemen tersebut.
“Yaudah mumpung aku dikampus BT, kita nyuci-nyuci aja deh disini. Kamu bantuin aku angkat baju-baju kotor dikamar”.
“Aku?”.
“Iya kamu”.
“Boleh gak kalau kamu aja sendiri tanpa melibatkan aku”.
“RAKA!”. Padahal cuma bercanda tapi Ghisa langsung senewen dengernya.
“Mulai sekarang kamu gak boleh kaya gini. Kamu harus belajar rapi. Mentang-mentang tinggal sendirian jangan seenaknya ya. Pikirin kebersihan juga”.
Bentar. Ini rada aneh.
“Apa jangan-jangan dikehidupan yang dulu aku sama Ghisa itu adalah Raja dan Ratu disuatu negeri yang indah. Lalu setelah reinkarnasi kita dipisah jarak dan martabat. Dia sama kekayaannya dan aku sama kemiskinanku. Dan endingnya kita dipertemukan lagi saat ini sama Tuhan”. Raka bicara dalam hati sambil menggaruk dagunya.
“Iya pasti begitu. Seharusnya aku dulu gak makan buah terlarang ya”. Raka ngangguk-nganggukin kepala.