SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #17

Atur Siasat

“Yaudah bagaimana kalau kita buat kesepakatan aja ya. Saya ACC skripsi kamu, kamu ACC cinta saya”.

“Najis. Begitu katanya Sha?”. Raka bengong dengerin cerita Ghisa tentang dosen skripsinya yang ngasih syarat kalau mau skripsinya di ACC.

“Iya. Gila kan? Padahal umurnya udah enam puluhan”.

“Jijik banget itu kakek-kakek. Terus kamu terima?”.

“Ya mau gimana lagi?”.

“SERIUSAN? UMUR SEGITU PERSNELINGNYA UDAH MELETOY SHA”. Raka terguncang.

“Kenapa jadi bahas persneling? Dasar cabul”. Ghisa ketawa ngakak ngeliat respon Raka yang kaya gini.

“Kaget aku. Tapi seriusan kamu jawab iya?”. Raka masih penasaran.

“Aku jawab pikir-pikir dulu. Soalnya kalau langsung nolak, takut skripsinya langsung ditolak juga”.

“Bagus! Umurnya kan udah enam puluh tahun, kamu pikir-pikirnya sampai dia meninggal aja Sha”.

Raka keliatan banget gak sudi kalau Ghisa sampai jatuh ke pangkuan orang lain. Kakek-kakek pula.

“Kalo meninggal, skripsiku ikutan meninggal juga dong”. Ghisa cemberut. Raka langsung mikir sesaat.

“Yaudah kita atur siasat sambil makan yuk. Hari ini aku mau ajak kamu makan enak. Aku yang bayar deh”.

“Seriusan? Yeyeyey”.

“Tapi kita motoran aja ya. Udah lama gak motoran. Sekalian aku mau mampir ke apartemen buat ambil nomor rekening panti asuhan. Kamu jadi kan mau nyumbang buat anak yatim? Kalau emang jadi, kirim ke rekening aku aja dulu. Nanti aku yang urus ke panti asuhannya”.

“Oh iya aku hampir lupa”. Ucap Ghisa sambil mengeluarkan Hp nya. Dia langsung mengirim uang dengan nominal seperti biasa. Dua puluh juta rupiah ke rekening Raka.

Ghisa bukan wanita yang sholeh. Raka jarang banget liat Ghisa sujud. Mau sujud pakai pakaian apa? Setiap kekampus aja selalu pakai pakaian minim.

Kalau hari ini BH nya kelihatan, besok sudah dipastikan tali BH nya yang gantian nongol. Belum sampai gak pake BH sih, Tapi ya kelakuannya begitu terus setiap hari. Mungkin baru tobat kalau Nabi Isa udah turun kayaknya.

Tapi kalau bicara sedekah, Ghisa ini royal banget. Kalau judulnya anak yatim, dipastikan dia gak mikirin nominal lagi. Inilah yang jadi celah Raka untuk menambah pundi-pundi uangnya.

Busuk emang. Ghisa kasih Dua puluh juta, yang sampai ke anak yatim palingan Cuma tiga juta. Sisanya dia kantongin sendiri. Gimana gak kaya?

“Tapi semuanya bukan buat hal yang negatif kok. Gak pernah Raka pakai untuk minuman keras, judi, atau sesuatu yang dilarang agama. Dia selalu pakai buat bantu orang, buat nyenengin orang tua. Apa itu salah?”. Begitu pembelaan Raka ketika berbincang dengan Tuhan.

Entah deh gimana hukum agamanya. Boongin Ghisa tapi buat melakukan kebajikan. Ya kalau menurut ideologi film Azab sih, tindakan Raka ini bisa mengundang penyakit kronis atau ditabrak mobil bak. Tapi gak apa-apa ditabrak mobil bak asal jangan ketauan aja sama si Ghisa.

“Kebanyakan ngelamun biasanya matinya cepet. Ayuk ah jalan”. Ucap Ghisa membuyarkan lamunan Raka.

Sebenarnya di apartemennya lagi banyak temen-temennya yang datang buat tanding PS. Karena Khawatir Ghisa akan cerewet, Raka menyuruhnya menunggu di parkiran, sedang dia naik keatas untuk mengambil kunci motor.

Keingetan kalau motornya parkir terlalu dalam, Raka mutusin minjam motor salah satu temannya yang berada paling luar.

Raka telah melanjutkan hidup, memutuskan untuk memperbaharui kenangan-kenangan yang dilewati bersama Ghisa dengan caranya sendiri. Mulai bercerita, tertawa, dan bertemu dengan banyak mimpi yang semula dia anggap sebagai dongeng. Dan itu rasanya gak akan pernah sama kalau bukan sama Ghisa.

“Awas aja sampai gak habis”. Ucap Raka geram melihat Ghisa langsung memesan banyak makanan ketika sampai dan duduk di meja disalah satu restoran mahal dijakarta.

“Tenang aja, tembolok aku luas. Lagian gratis kan?”. Ghisa nyengir sumringah sambil memperhatikan banyak makanan yang sudah terhidang di meja makannya.

Beberapa diantaranya memang makanan favorit Ghisa. Nasi goreng seafood, lobster, cumi goreng tepung, gulai kepala ikan, udang sambal balacan.

“Kamu laper banget ya?” Celetuk Raka ngeliat Ghisa melumat kepala ikan tanpa ampun. Bahkan sebelumnya Ghisa telah melahap habis semua cumi goreng tepung yang tersaji disitu.

Lihat selengkapnya