Tok Tok Tok.
Raka bertamu kerumah seseorang dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Pria cool, elegant, tampan serta udah menjelma menjadi pria kaya raya itu berdiri mematung didepan sebuah pintu besar bercorak modern.
Bukan maksudnya untuk ikut campur masalah orang lain, tetapi raka Cuma berfikir kalau dia harus turun tangan membantu sahabat terbaiknya itu menyelesaikan pendidikan yang gak pernah selesai-selesai. Dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan semuanya.
“Sialan si Ghisa. Dia mana tau kalau gue udah ganteng begini malah harus gelantungan di tiga pintu angkot cuma buat bela-belain skripsinya dia”. Ungkap Raka ketika dia berhasil sampai dirumah si dosen.
Kenapa harus naik angkot? Kenapa gak naik motor aja?
“KARENA SI GHISA KASIH ALAMAT BERDASARKAN TRAYEK ANGKOT!” Gumam Raka sedikit emosi
Tapi gak apa. Seperti hidup yang penuh tipuan tapi sangat nikmat dijalani, Raka gak mau terkesan cuma dia yang manfaatin Ghisa. Sekali-kali dia mau bermanfaat juga buat perempuan yang sudah mengubah nasibnya tersebut.
KLEK.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita berumur tapi belum kelihatan tua.
“Maaf bu betul ini rumah pak Udin Setiakawan?”. Tanya Raka sama wanita tersebut.
“Udin Setiadji Mungkin Maksudnya”. Jawab wanita itu.
“Eh iya maksudnya itu”. Raka nyengir keledai.
“Iya betul. Saya Istrinya. Ada apa ya?”.
Ternyata benar dugaan Raka kalau tuh kakek-kakek sudah beristri.
Raka dipersilahkan masuk. Dia melirik ke segala arah ruangan. Disitu terpampang kokoh foto keluarga yang menampilkan si dosen dengan istri dan ketiga anaknya.
“Tua bangka jelek”. Begitu fikirnya saat itu.
Raka langsung mengirimkan pesan Whatsapp ke Ghisa ketika sang istri kedapur untuk mengambilkan air minum.
“Sha, udah buruan kamu lakuin rencana kita”. Tulis Raka singkat di pesannya.
“Seriusan nih dijalanin?” Balasan dari Ghisa.
“Iya. Buruan ajak si jompo itu ketemuan di hotel”.
“Aduh kok aku jadi ngeri ya. Ngajak ke hotel segala”. Ghisa sedikit ragu.
“Udah buruan sebelum aku ketahuan disini”.
“Trus dihotel aku ngapain? Pakai acara buka baju gak?”.
“Janganlah blok”. Balas Raka.
“Kalau dia yang duluan buka baju?”.
“Aduh banyak pertanyaan banget nih anak. Kalau dia yang buka baju, tendang aja biji ketumbarnya”. Raka bingung mau balas apa lagi.
“Aku serius nih”. Balas Ghisa lagi.
“Intinya kamu ajak ke hotel terus kamu ulur-ulur waktu aja sampai aku datang kesana ya”.
Tanpa membuang banyak waktu, Ghisa akhirnya mengirim pesan ke dosennya untuk mengajaknya bertemu di salah satu hotel berbintang di Utara Jakarta.
“Ada perlu apa ya sama suami saya”. Tanya si istri tersebut lembut sambil membawakan air minum untuk tamunya.
Belum sempat Raka menjawab pertanyaan, si tua bangka keluar dari kamarnya dengan sudah memakai pakaian yang sangat rapi.
“Mau kemana pak bukannya hari ini gak ada jadwal ngajar?”. Tanya si wanita sama suaminya.
“Ini bapak mau ada meeting sama semua dosen kampus. Dadakan juga makanya bapak gak sempat kasih tau ibu”. Raka menjulurkan lidah mendengar alasan si kakek-kakek cabul itu.
“Anda siapa?”. Tanya sang dosen dengan muka sangar ke arah Raka.
“Ini pak saya mau minta sumbangan buat pembangunan um anu, pembangunan apa ya bentar saya pikir-pikir dulu. Lupa saya. Ini pak, anu..”
“Gak ada sumbangan-sumbangan. Keluar sekarang juga”. Sang dosen menghentikan ucapan Raka dan menyuruhnya keluar dari rumah.
“Bapak jangan gitu sama tamu”. Sang istri menenangkan.
“Tau tuh udah aki-aki bukannya banyakin sedekah malah anarkis”.
“APA KAMU BILANG?”.
Raka langsung ngibrit keluar rumah tersebut lalu bersembunyi di belakang pohon besar gak jauh dari rumah si dosen.
“Aku udah janjian di hotel ini ya. Dan aku sekarang lagi jalan kesitu”. Raka membaca pesan yang dikirimkan Ghisa sambil melihat nama hotel yang dipesannya.
“Sebentar lagi lu bakal mampus jompo”. Gumam Raka ketika melihat sang dosen keluar dari rumahnya.
Matahari yang posisi nya tepat dibawah langit dan minimnya awan pada siang itu, turut mengantarkan laju mobil dosen menghempas jalanan untuk menuju ke hotel dimana Ghisa sudah menantinya.
Sedang ditempat lain, Ghisa sedang sibuk menebak-nebak jalan pikiran Raka dan apa yang ada dibenak Raka dengan segala rencana ya dia lakukan sekarang.
Raka sendiripun tidak kalah repot. Cuaca panas yang sangat tidak bersahabat ini tetap dia lawan demi bisa membantu Ghisa. Satu botol air dingin yang dia teguk pun terasa menguap bersama gerah yang dia rasakan diseluruh bagian tubuhnya.
“Lama ya nungguinnya”. Sapa sang dosen ketika masuk kedalam salah satu hotel yang didalamnya sudah ada Ghisa.
Tanpa dipersilahkan, dosen itu langsung menempati sebuah kursi yang berada di pinggir jendela, memperhatikan Ghisa dengan instens, menatapnya dengan tajam seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.
“Saya surprise aja diajak kesini”. Sang dosen memulai pembicaraannya.
“Iyalah pak. Bagus disini. Ngobrolin skripsi masa dipasar. Gerah pak”. Sang dosen tertawa mendengar jawaban Ghisa.
“Jadi kamu udah mutusin mau terima cinta saya?