SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #19

Hari Wisuda

Pagi itu langit sedikit melankolis. Dia menangis terisak dengan petir yang dia lesatkan ke bumi. Seperti seorang anak balita yang merengek meminta mainan. Tapi raungan itu tidak menyusutkan para mahasiswa dan mahasiswi untuk berkumpul dengan wajah-wajah yang bahagia.

Ya. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh semua mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir yang ada di salah satu universitas yang menurut desas-desus warga sekitar adalah universitas paling mahal di Jakarta. Gak terkecuali bagi Ghisa Shelita Farichara, seorang mahasiswi jurusan Tekhnik Bedah Syaraf.

Setelah mengalami berbagai macam serentetan perjuangan untuk bisa selesaikan skripsinya, seperti nulis sampai begadang semalaman, mengganggu tukang somay berjualan dikantinnya, nangis-nangis karena bayangan masa depan yang suram, revisi sana sini gak ada juntrungan, sampai hampir diperkosa kakek-kakek di sebuah hotel mewah, akhirnya Ghisa bisa duduk di salah satu aula wisuda bersama mahasiswa lain yang senasib dan sepenanggungan.

Ghisa disana bersama keluarganya yang belum mati. Mamanya. Tentu ditemani sahabat terbaiknya yang tidak lain adalah Rizky Maharaka Syahputra. Seseorang yang saat ini bagi Ghisa adalah pahlawan di hidupnya.

Ini juga menjadi momen awal dimana akhirnya Raka bisa ketemu sama Ibunda Ghisa untuk pertama kali.

“Kamu yang namanya Raka ya”. Tanya mamanya Ghisa sambil menjabat tangan Raka.

“Iya tante”. Jawab Raka sopan.

“Ghisa sering ceritain tentang kamu”. Raka Cuma bisa senyum sumringah mendengar ucapan mama nya Ghisa tersebut.

“Makasih ya sudah bantuin anak saya”. Lanjut mama nya Ghisa lagi.

Mata Ghisa menatap sekeliling. Memeriksa sekali lagi bahwa dia gak sedang berhalusinasi. Dia juga mencubit lengannya sendiri memastikan bahwa dia gak lagi dialam mimpi.

Ini nyata. Dia berada di pintu akhir perkualiahannya. Untuk menuju pintu lain dimana dia harus berhasil mencapai cita-citanya.

“Aduh sakit”. Teriaknya saat mencubit dirinya sendiri.

“Kenapa lu? Mental keganggu lagi?”. Tanya Raka disebelahnya sambil memperhatikan tindakan Ghisa.

“Aku mau mastiin ini riil. Gak mimpi”. Jawab Ghisa cepat.

“Sini aku tabok aja kepala kamu biar pasti”. Ledek Raka.

Ghisa tertawa lepas. Dia gak bisa lagi menyembunyikan ekspresi bahagianya.

Ghisa menggenggam liontin yang dikenakannya hari ini. Kalung yang hanya dikenakannya di hari-hari penting dimana dia butuh kekuatan dan keberuntungan lebih.

Ketika tahap terakhir wawancara beasiswa. Hari pertamanya kuliah. Setiap dia kebagian memberikan presentasi tugas dan laporan. Hari ujian. Wawancara untuk internship. Sidang tesis. Dan tentu saat ini. Di hari wisudanya.

“Sha”. Colek Raka.

“Apa”. Jawabnya pelan.

Lihat selengkapnya