SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #20

Terjebak Intim

Raka tau, Wisuda Ghisa ini jadi kado yang berkesan banget buat dia. Gimana enggak, selama ini dia sibuk mikir gimana cara nya lolos dari jerat dosen cabul dikampusnya. Sampai akhirnya, Tuhan kirim pahlawan tampan yang masang kolornya masih didalem bernama Raka.

Meski ikutan senang, Raka juga menyadari bahwa status pendidikannya sekarang semakin jauh sama Ghisa. Apalah Raka yang cuma punya Ijazah sekolah rakyat dibanding Ghisa yang sekarang menyandang titel ahli bedah syaraf.

Di wisuda tadi juga, Raka lihat mamanya Ghisa bahagia banget. Kata Ghisa dia gak pernah lihat mama nya sebahagia itu. Pencapaian di kuliah nya kali ini ngebuat mamanya benar-benar bangga sama dia.

Yah Raka memahami betul bagaimana perasaan mama nya tersebut. Beda sama mamanya Raka dulu yang setiap hari berusaha nyolong kesempatan untuk bisa suntik mati si Raka ketika tidur.

“Huff”. Helaan nafas terhembus pelan dari mulut hitam Raka.

Senja ini, Raka hanya duduk di salah satu kursi disudut apartemennya. Bayangan tentang wisuda tadi pagi masih membekas dikepalanya. Penampilannya sudah tidak serapi tadi pagi, tapi raut ceria masih setia terpancar dari wajahnya yang tampak sedikit kelelahan.

KLEKK.

Kunci kamar mandi terbuka. Sedang Raka masih sibuk melihat foto-fotonya bersama Ghisa.

“Kita jadinya traveling kemana nih?”. Ucap Raka ketika melihat Ghisa keluar dari dalam kamar mandi.

Tembolok Raka langsung kegores. Suaranya serak padahal lagi gak nelen benda tumpul ketika Ghisa keluar kamar mandi cuma pakai handuk dan langsung duduk disamping Raka. Saking terkesimanya, Raka sampai menahan nafas.

Dia sekilas melirik Ghisa. Rambutnya masih basah. Tangannya melibas ke arah rambut yang memperlihatkan lengan mulus putih miliknya. Mustahil cowok diluaran sana gak akan tergoda dengan momen yang Raka rasakan saat itu. Jangan kan orang, setan aja pasti nafsu. Begitu kata batin raka dalam hati.

Tapi tunggu. Semenggodanya Ghisa ternyata gak ngebuat jiwa laki-laki Raka keluar dari sarangnya. Dia masih teguh pada iman nya. Cukup manfaatin Ghisa di keuangannya aja. Jangan sampai ngerusak hidupnya juga. Meskipun dari dalam hatinya tetap mengakui. Bahwa Ghisa ya Tuhaaaaan seksi banget sih ah.

“Tadi kamu ngomong apa?”. Tanya Ghisa masih sambil mengeringkan rambutnya.

“Ini jadi kita traveling kemana?”.

“Besok aja lah kita traveling. Sekarang nginep dulu aja disini. Suntuk dirumah. Sekalian kita perayaan kelulusan aja disini”. Jawabnya santai.

“Ngi-nginep disini? Di-di apartemen ini?”. Tanya Raka terbata-bata.

“Kenapa? Gak boleh emang aku nginep disini?”.

“Bu-bukan gak boleh. Kamu pasti tidur di kasur. Aku? Di balkon?”. Raka masih terbata-bata.

“Yaudah sih tidur berdua aja dikasur. Lega kan?”. Tembolok Raka lagi-lagi tergores.

“Ber-berdua?”.

“Aku tau kamu itu orang baik jadi gak akan macem-macem”. Jawab Ghisa santai.

“Ta-tapi”.

“Udah gausah tapi-tapian, bantuin aku pasangin ini dong”.

Ghisa membelakangi Raka dan melepas handuknya. Punggung putih dan mulus Ghisa kini berada tepat di depan matanya. Benar-benar makhluk Tuhan paling sempurna. Begitu ucapan Raka dalam hati sambil memasangkan pengait ketubuh Ghisa.

“Duh sialan jadi nafsu kan. Peluk gak ya?”.

“Heh ngelamunin apaan? Pasangin buruan”.

Tumbuh dan besar di Jerman membuat pola pikir Ghisa sangat terbuka tentang ini. Meski Islam, tapi selayaknya orang jerman, Ghisa gak malu untuk seperti ini sama orang yang bahkan bukan suaminya. Tentu jarak yang jauh sama Agama Islam itu sendiri menyempurnakan semuanya.

Pengait itu terpasang, setelahnya dengan santai Ghisa duduk didepan cermin yang biasa Raka pakai. Dalam beberapa jam doang dia disini, apartemen Raka udah disulap jadi kaya rumah dia. Tanpa rasa berdosa, dia keluarin barang-barang Raka di laci lalu berganti dengan skin care dan alat-alat makeup nya yang super banyak.

Lihat selengkapnya