SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #21

Masalah Belum Selesai

Suara pecahan kaca terdengar merusak mood pagi. Salah satu orang disana melonjak kaget. Gak nyangka bahwa orang yang duduk dihadapannya tersebut bisa sampai semuak itu.

“Raka lo bilang?”. Tanya seseorang yang memecahkan gelas tersebut.

“Iya. Abang kenal?”. Dadanya berdegup kencang mendengar nama itu. Muak dan marah, itulah yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini.

“Raka si gondrong yang punya tato melingkar di lengannnya?”. Orang tersebut kembali bertanya meyakinkan.

“Iya bener bang. Abang emang kenal?”.

BRAKK.

Hantaman meja seolah menjadi penanda bahwa ada dendam yang dia simpan untuk nama itu.

“Dia pernah menghantam kepala gue pakai laptop”. Jawab orang yang gak lain adalah Bimo. Tangannya terkepal kuat diatas meja.

“Wah gawat juga. Dia juga pernah nganiyaya gue bang”.

Orang itu hanya menundukkan kepala. Dia gak berani natap Bimo yang lagi marah. Dia tau, Bimo pasti lagi ada dititik emosinya yang paling tinggi saat itu.

“Bapak kenapa diam aja dari tadi?”. Orang itu lalu mengalihkan pandangannya kearah si bapak.

“Dia juga pernah menjebak bapak disebuah hotel”. Jawabnya geram sambil memainkan sebuah gelas berisi air ditangannya.

“Bangsat emang itu orang! Kita harus bikin perhitungan sama dia!”. Ucap Bimo keras.

“Gimana caranya? Nyali dia itu gede banget bang”. Timpal lawan bicaranya. Sedang Bimo hanya bisa menatap langit-langit ruangan tersebut.

“Bentar, Kata lo dia ngerebut pacar lo ya?”.

“Iya”.

“Kita serang pacarnya kalau gitu”.

“Gak! Gue gak setuju bang. Jangan main kasar sama perempuan”. Jawab seseorang yang ternyata mantannya si Ghisa

“Bukan. Kita gak kasar sama perempuannya. Tapi kita buat perempuan itu sebagai umpan supaya si bangsat itu keluar”.

“Caranya?”. Si bapak ikut berbicara.

“Serahkan sama saya pak”.

Dan akhirnya mereka mulai menyusun rencana jahat untuk Ghisa dan Raka. Sedang si bapak langsung mengeluarkan HP nya untuk menelepon seseorang kenalannya.

Di tempat lain, Sudah satu jam Ghisa, perempuan berambut sebahu itu duduk sendirian di halte. Sudah gak kehitung juga berapa kali angkutan kota berhenti lalu melanjutkan perjalanan.

Tapi Ghisa tetap gak beranjak dari tempat duduknya. Dia gak melakukan apapun. Tangannya hanya sibuk menekan layar gadgetnya sambil sesekali Ghisa menghela nafas panjang.

“Si Raka lama banget”. Gumamnya dalam hati.

“Maaf, saya boleh minta botol air itu?” Pinta seorang cowok dengan penampilan lusuh sambil menunjuk sebuah botol mineral water yang bahkan belum sama sekali diminum oleh Ghisa

“Haus ya mas? Iya ini ambil aja”. Jawab Ghisa ramah sambil menyerahkan botol minumannya.

“Terima kasih”. Ucap sang cowok sambil berlalu meninggalkan tempat itu.

Suasana mulai gelap. Kawanan serangga mulai keluar dari sarangnya. Ghisa masih duduk di halte sendirian. Kepalanya menoleh kekiri dan kekanan sampai akhirnya mobil sedan hitam berhenti dan membuka kaca.

“Hehe lama ya nunggunya?”. Tanya Raka dengan muka polos.

“Bodoamat”. Ghisa memandangnya dengan muka cemberut dan masuk ke dalam mobil.

Lihat selengkapnya