SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #22

Hari Pembalasan

Raka memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah modern sesuai alamat yang diberikan di pesan whatsapp. Rumah ini gak terlalu besar. Tapi bisa dipastikan harganya mahal.

“Masa sih Ghisa dibawa kesini”. Tanya Raka sama dirinya sendiri.

“Dimana-mana kan kalau nyekap harusnya dibawa ke kandang sapi. Ini kenapa dibawa kesini?”. Raka perlahan berjalan masuk menuju pintu gerbang yang sepertinya sengaja gak dikunci.

Beberapa CCTV bertengger manis diatas kepalanya. Aneh emang. Masih gak habis fikir apa tujuan Ghisa dibawa kerumah tersebut.

“Apa harus ucap salam? Tapi masa iya bilang Assalamualaikum?” Fikir Raka ketika sudah berdiri didepan pintu.

“Atau gedor aja?”.

“Hmm atau dobrak aja sekalian?”.

BRAKKKK.

Tiba-tiba kepalanya ditutup karung goni yang sepertinya bekas daging qurban dari arah belakang. Pukulan benda tumpul membuat Raka gak sadarkan diri.

Lima menit berlalu, Raka akhirnya duduk sebelahan sama Ghisa dengan kedua tangan terikat kebelakang di sebuah tiang.

“Kamu gpp?”. Tanya Raka berbisik sama Ghisa.

“Gpp dari tadi gak diapa-apain kok”. Ghisa jawab pelan.

Didepan mereka berdiri cowok ganteng yang gak dia kenal. Dalam hati Raka sempat mikir, dia preman mukanya ganteng, lah Raka anak baik-baik mukanya malah sangar. Dunia gak adil emang.

“Ini pemulung yang sering minta air itu?” Bisik Raka lagi sama Ghisa.

“Iya”.

“Aku bilang apa? Kamu jangan terlalu baik sama orang”. Raka jawab ketus sama Ghisa.

“Ternyata gampang banget nyulik anaknya Ibu Maisaroh. Cukup minta air, eh dia sekarang ada dihadapan gue!“ Si preman sesumbar sambil ketawa yang bikin mukanya lebih keliatan ganteng. Sumpah ganteng banget ini orang.

“Nama ibu kamu Maisaroh?” Raka berbisik lagi sama Ghisa.

“Iyaa. Emang kenapa?” Tanya Ghisa.

“Gak apa-apa sih Cuma janggal aja. Ibu kamu kaya raya namanya Maisaroh. Lah ibu aku miskin jumpalitan malah namanya Isabella”.

Ghisa masih sempat-sempatnya ketawa padahal lagi dalam kondisi terjepit.

HEH !!! KENAPA LU BERDUA MALAH NGOBROL!” Si preman sok keras.

“Ini nih si Raka ngajak diskusi mulu. Langsung aja bang eksekusi buruan”. Raka sama penculik melongo berjamaah dengerin ucapan Ghisa yang asal itu.

“Sekali mendayung dua orang didapat. Dan lo?” Si preman menunjuk wajah Raka.

“Kenapa?”. Tanya Raka menantang.

“Lo pasti yang namanya Raka”. Tanya si preman.

“Oh jadi lo kenal gue. Bagus deh. Berarti lo tau segimana buas gue. Jadi sebelum semuanya berantakan, mending lo lepasin kita dan gue anggap ini gak pernah terjadi”. Dengar gertakan itu, si preman malah ketawa.

“Sekarang tinggal tunggu orang yang nyuruh gue bawa lo berdua datang kesini”. Lanjut si preman.

“Ooooh jadi lu itu suruhan? Budak oligarki? Ganteng-ganteng kok jadi kacung. Mending gini aja. Lo lepasin Ghisa, trus lo sandera gue aja. Perkosa gue aja. Gue pasrah mau diapain juga sama orang ganteng kaya lo”.

CUIHHH. Mulut Raka kena ludah nya Ghisa.

“SEMPET-SEMPETNYA YA NALURI HOMO KAMU KELUAR!”. Ghisa melotot ke arah Raka

“Dibayar berapa lo ngelakuin ini?”. Raka melanjutkan pertanyaannya

“Sepuluh juta”. Raka dan Ghisa langsung bengong.

“Goblok banget! Mau aja dikasih sepuluh juta! Dua orang nih. Dua-duanya kaya. Murah amat! Minta itu seratus juta! Dan nanti kita bagi tiga hasilnya. Gimana?” Raka ikutan bicara.

“Jatahku lima puluh”. Ghisa ikutan nimrung.

“Lah kebanyakan. Si ganteng dapat tiga puluh. Kamu dapat tiga puluh. Nah aku yang punya ide kebagian empat puluh”.

“Kok curang!” Ghisa cemberut.

Lihat selengkapnya