SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #23

LDR

“Dari hasil pemeriksaan kami, korban mengalami luka memar hampir diseluruh badannya. Juga ada beberapa bekas goresan benda tajam, serta satu luka tusuk di perut yang untungnya tidak mengenai organ vital di dalam tubuhnya”

Tatapan Ghisa masih tertuju pada Raka. Sesekali matanya mengeluarkan air mata melihat Raka memakai alat bantu pernafasan yang menutupi hidung dan mulutnya. Ghisa hanya melontarkan kalimat-kalimat yang sama sekali gak terdengar jelas dari mulutnya.

Tangannya sibuk mengotak-ngatik Hp Raka yang terkunci. Ghisa sama sekali gak bisa menghubungi keluarga Raka karena itu. Ditambah selama ini Raka gak pernah mengajaknya main kerumah orang tuanya. Ghisa langsung menyadari bahwa Raka selama ini tertutup banget tentang keluarganya.

Jemari Raka sekilas bergerak pelan.

“Ini udah di neraka?”. Tiba-tiba terdengar suara Raka lirih. Ghisa menoleh cepat.

“Kamu udah bangun?”.

“Ini dineraka yang keberapa?”. Tangan Ghisa langsung menutup mulut Raka.

“Huss jangan ngomong sembarangan. Kamu dirumah sakit. Yaampun syukurlah kamu udah siuman”. Tangan Ghisa lalu menggenggam tangan Raka tentu dengan air mata yang terus mengalir.

Raka tampak kebingungan. Penglihatannya masih sedikit buram. Dia masih berusaha memperhatikan ruangan tempat dia berada.

“Kok aku bisa ada disini?”. Raka memegang kepalanya yang sedikit nyeri.

“Bojas yang bawa kita kesini lima hari lalu”.

“Bojas?”.

“Iya orang yang nyulik kita itu”.

“Jadi aku udah lima hari disini?”. Tangan Raka berusaha melepas alat bantu pernafasannya.

“Jangan dilepas. Nanti kamu susah nafas”. Ghisa menahan tangan Raka.

“Lepas aja. Aku udah enakan kok”. Raka langsung membangunkan tubuhnya lalu bersender di ujung kasur. Matanya tertuju pada Ghisa. Dia tau Ghisa pasti sangat khawatir dengan kondisinya saat itu.

“Maafin aku ya bikin kamu jadi kaya gini”. Ghisa meneteskan air matanya lagi.

“Enggak. Jangan ngomong gitu. Semua bukan salah kamu”. Raka menghibur Ghisa yang lagi-lagi merasa bersalah itu.

“Ini basah karena air mata kamu ya?”. Tanya Raka menyentuh kemeja Ghisa. Dan Ghisa hanya bisa mengangguk pelan.

“Aku udah gpp kok. Kamu jangan nangis lagi ya. Ganti gih bajunya nanti kamu masuk angin”.

Rasa bahagia sedikit terpancar dari Raka. Pertama karena dia gak mati. Kedua, gak pernah dia ngeliat Ghisa seperhatian ini. Segala sesuatu memang selalu akan terselip hikmah setelahnya.

“Selamat siang pak”. Pintu diketuk dari arah luar yang ternyata dua orang polisi. Raka menoleh ke arah pintu masuk.

“Yah ditangkap lagi”. Ucap Raka sambil menghembuskan nafas panjang.

“Bukan pak tenang aja. Kami disini cuma mau minta beberapa keterangan saja”. Sang polisi tersenyum ke arah Raka.

“Bapak ingat kejadian yang menimpa bapak?”. Tanya sang polisi ramah. Raka memperhatikan wajah semuanya yang disitu. Dia Cuma gak ingin berurusan dengan polisi lagi.

“Saya gak ingat pak”. Jawab Raka pelan.

“Sama sekali gak ingat apapun pak?”. Teman si polisi ikut berbicara. Raka hanya mengangguk sambil memegang belakang kepalanya. Si polisi hanya saling tatap satu sama lain.

“Baik pak. Kalau nanti bapak sudah ingat dengan semua kejadiannya, bapak langsung saja ke kantor untuk memberikan keterangan. Supaya pelaku bisa cepat kami tangkap”. Ucap polisi sambil menyerahkan kartu namanya lalu pergi dari ruangan tersebut.

Lihat selengkapnya