SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #26

Jomblo Rasa Pacaran

Pada suatu siang yang terik, dibawah sebuah jembatan layang gak terpakai, sebuah mobil sedan berhenti. Pengemudi membuka kaca lalu menyalakan sebatang rokok. Tatapannya kosong kayak lagi mikirin banyak hal yang gak mampu dia cerna. Gak lama, pada isapan ketiga, datang pula dua orang lain mengendarai dua sepeda motor dan berhenti tepat di depan mobil sedan tersebut.

“Ini udah dua bulan. Bapak rasa dia gak akan balas dendam. Kalian pulang saja kerumah kalian masing-masing”. Si bapak memulai percakapan setelah kedua orang itu cium tangan.

“Ini aneh. Saya kenal betul siapa si Raka pak. Bukan karakternya untuk gak balas dendam”. Ucap seseorang yang ternyata Bimo menimpali.

“Tapi kan nyatanya sampai hari ini kalian aman-aman aja. Mungkin dia udah takut pasca kejadian dua bulan lalu itu”.

“Dia itu gak kenal rasa takut pak”. Lanjut Bimo lagi.

Si bapak hanya bisa mikir keras sambil sesekali menghisap rokoknya.

“Atau gak gini aja pak. Kami sementara tinggal dirumah bapak aja ya. Saya masih khawatir kalau harus kembali kerumah”. Bimo lagi-lagi mengutarakan niatnya.

“Kamu sudah gila? Istri saya lama-lama bisa curiga kalau kalian tinggal dirumah”. Si bapak gak setuju sama saran Bimo.

“Tapi gimanapun juga kami kan tetap anak bapak”. Si bapak menghela nafas panjang dibarengi asap rokok yang membumbung tinggi menghempas langit.

Bimo dan mantan Ghisa yang bernama Dimas itu ternyata adalah anak dari hubungan gelap si bapak dengan istri yang lain.

“Seharusnya kita habisi saja si Raka waktu itu. Supaya gak ada hal-hal kaya gini sekarang”. Ucap si bapak pelan.

“Gue kayaknya tau satu hal deh”. Tiba-tiba Dimas ikutan bicara.

“Tau apa?” Tanya Bimo diikuti si bapak yang langsung noleh ke arah Dimas.

“Kemarin itu ceritanya gue sholat jumat di salah satu yayasan anak yatim deket kosan”.

“Trus?”. Ucap si bapak.

“Biasanya sebelum solat jumat, panitia mesjid bakal nyebutin tentang sumbangan-sumbangan jamaah disana. Eh gue denger nama Ghisa disebutin ikut ngasih sumbangan ke yayasan itu.

Gue langsung penasaran, gak mungkin Ghisa sampai tau yayasan itu dan datang sendiri buat kasih sumbangan”.

“Terus masalahnya dimana?”. Tanya Bimo lagi.

“Nah itu dia masalahnya. Pas sholat selesai, gue iseng tanya sama panitia masjid itu tentang Ghisa. Ternyata kata si panitia, yang ngasih sumbangan itu laki-laki yang cirinya mirip banget sama Raka”.

Si Bimo dan si bapak langsung liat-liatan. Sedang Dimas ngelanjutin ucapannya lagi.

“Gue kan mantannya Ghisa. Gue tau banget kebiasaan dia. Apalagi mamanya. Mereka itu kalau nyumbang biasanya nominalnya antara lima belas juta sampai tiga puluh juta setiap bulan. Tapi itu panitia masjid bilang sumbangan tiap bulan dari yang namanya Ghisa itu cuma berkisar dua sampai tiga juta doang”.

“Jadi maksud lo, bisa jadi si Raka udah nipu Ghisa?”. Dimas gak menjawab tegas. Dia cuma bisa mengangguk mendengar pertanyaan itu.

“Pantas aja tiba-tiba jadi orang kaya. Dan gue jadi semakin yakin semua hal yang Raka punya itu hasil dari nipu Ghisa selama ini”.

“Terus apa rencananya?”. Tanya si bapak.

“Gini aja. Kita bongkar semuanya ke Ghisa dan mamanya sekalian. Pernah berhubungan sama Ghisa bikin mama nya kenal sama gue. Kalau udah begini gue yakin Raka gak akan berani lagi masuk ke kehidupan Ghisa dan kita semua. Dan yang terpenting dari semua ini, tentu gue bakalan dapat kepercayaan Ghisa lagi.

“Jadi ini hanya tentang perasaan lo?”. Tanya Bimo.

Lihat selengkapnya