SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #28

Titik Kehancuran

Hari ini lagi cinta-cintanya. Setiap hari nambah. Bukan makan. Tapi cintanya. Rindu yang dipendam ini efeknya bikin Raka gak nafsu sama makan. Nafsunya sama Ghisa doang.

Ketemu, sikat pokoknya. Paling cepet dua hari lagi Raka dan Ghisa akan ketemu untuk ngelakuin hubungan intim. Bukan. Maksudnya untuk ketemu pertama kalinya melepas rindu.

Yah intim juga gak masalah sih kalau Ghisanya mau. Gak mau lama-lama lagi dihubungan sebelah tangan berkedok manipulatif.

Raka jadi inget cerita, temennya pernah deket sama temennya juga, sampe level get lost berdua, jalan jalan, seru-seruan, nginep, pokonya deket banget. Persis sama Raka dan Ghisa. Terus kalo sekarang ditanya, kenapa ga deket lagi? Dia ngga tau.

Temen Raka yang lain, pernah deket banget sama temennya, sampe tidur berdua kelonan karena temennya ini takut kalo ada petir, suka mimpi buruk. Padahal gak ada hubungannya. Terus kalo sekarang ditanya kenapa ga deket lagi? Masalahnya sepele, ga masuk akal kalo dipikir-pikir, terlalu sederhana untuk bisa memisahkan silaturahmi sedeket itu.

Semakin kesini kalo dicerna lagi, ternyata gak butuh permasalahan rumit untuk menyudahi suatu hubungan. Kalau udah habis masanya, ya habis aja. Dan Raka gak mau kaya gini sama Ghisa.

LDR selama tiga bulan ini mungkin cara semesta ngajarin kalau lagi barengan tuh manfaatin semuanya sebaik mungkin. Get lost berdua kek. Bobo bareng kek. Bikin bayi kek. Atau apapun lah. Jangan sampai buang-buang waktu terus ketemu sama yang namanya perpisahan. Amit-amit. Begitu kata Raka.

Baru kali ini Raka mikir keras sampai pusing. Kepalanya berat kaya digelendotin jin yang ada di film makmum. Raka berada di titik paling dilema dalam hidupnya.

“Kalau ketemu apa langsung gue nikahin aja ya? Kan enak tuh tiap malem bisa bikin bayi”. Raka terpengarah. Dalam waktu seperkian detik aja dia masih gak bisa mikirin apapun selain bikin bayi.

‘Sepuluh cara jitu agar gebetan mencintai kamu’

Dari kemarin Raka hanya sibuk baca artikel kaya gini. Namun menurutnya satupun gak ada yang akan berhasil ke Ghisa. Raka tau betul gimana sifat Ghisa.

“Masa iya pake jaran goyang”. Oh tidak. Walaupun Raka gak deket-deket banget sama agama, tapi dia gak pernah mau pakai cara yang dilarang agama. Raka udah sangat yakin Ghisa juga mencintainya. Jadi sebenarnya gak perlu pakai cara aneh-aneh buat mewujudkannya.

“Kalau ditolak gimana?”. Lagi-lagi suara menggema di kepala Raka.

“Gampang. Gue mangkal ajalah biar dipelihara tante-tante”. Sudah sedahsyat itu ternyata cinta Raka sama Ghisa.

Walaupun belum mandi, wajah Raka emang cerah secerah masa depan rafatar. Katanya gausah mandi sekarang, nanti keburu bau pas ketemu Ghisa. Nanti aja mandinya pas detik-detik mau ketemu. Biar harum. Siapa tau kan Ghisa langsung horny saat itu juga.

“Kamu gausah jemput aku di bandara ya. Aku nanti dijemput mama. Kalau udah dirumah, aku kabarin. Kamu langsung kerumah aja sejam lagi”. Raka langsung girang baca pesan dari Ghisa.

Kita tidak akan pernah lupa pada pertemuan dan perjumpaan dengan seseorang yang baik, baik versimu atau versiku. Sebab baik versi kita akan selalu berbeda, dan setiap kita akan selalu berbeda menyikapi pertemuan.

Pada ranting yang jatuh dan kering, ada ketentuan kapan ia akan menggugurkan semua daunnya dulu barulah ia jatuh. Pada hujan yang turun dan langit yang bergemuruh, ada ketetapan tempat mana yang akan ia siram dengan air keberkahan.

Semua kita telah ada alur takdir dan ceritanya, telah ditentukan mati dan hidupnya. Dan pada tiap rezeki yang akan kita dapatkan, ada ketentuan banyak sedikitnya, sampai habis usia. Termasuk pertemuan ini tentunya.

“Ada banyak cerita yang ingin aku ceritakan pada pertemuan kita nanti Sha”

Show time. Waktu yang dinanti akhirnya datang. Ini akan jadi hari bersejarah buat dia. Gimana enggak? Ghisa langsung suruh kerumah? Apa mau langsung lamaran? Atau nikah sekalian?

Rada sewot sebenarnya. Udah chekout sana sini tapi di hari yang penting begini malah barang yang dipesan belum ada yang sampai sama sekali.

Niat pengen pakai kacamata hitam biar mirip jimmy lin, aktor yang gantengnya lintas genetasi. Sialannya, sekalinya tuh kacamata datang, eh malah tebel banget kayak bedak cabe-cabean. Pas dipake, mirip jimmy lin enggak, kalau diperhatiin malah mirip jimmy neutron. Kan sial.

“Tapi gak apa-apa deh. Yang penting ketemu Ghisa”. Hiburnya dalam hati.

Udah lima jam Raka mempersiapkan duniawi untuk bisa kerumah Ghisa. Katanya Ghisa udah sampai rumah beberapa jam lalu. Tapi katanya juga dirumahnya ada tamu. Mungkin sodaranya datang karena lama gak ketemu Ghisa.

Semua perabotan serta aksesoris kemapanan sudah bertengger manis di beberapa tubuh Raka. Bukan mau nampang, tapi emang kalau selama ini yang tinggi dari hidup Raka itu cuma asam urat sama gengsi, sekarang nambah satu yang namanya kekayaan. Sayang kan kalau gak dipertunjukkan?

Masih didepan kaca. Memastikan semuanya aman. Setelah di rasa sempurna, berangkatlah Raka dari apartemennya menuju kerumah Ghisa.

“Haiiiii bestiiiii lama gak ketemu”. Langsung peluk.

Kayaknya itu bukan ide yang bagus. Soalnya ada mamanya. Apalagi kalau-kalau masih ada tamu. Kan tengsin. Dinikahin belum malah main peluk-peluk aja.

Lihat selengkapnya